Sombong Diperbolehkan? Tawadhu dan Sombong memiliki Tempatnya Masing-Masing, Simak Selengkapnya

tawadu.png

Share

JURNALISTIK ASY SYADZILI 4 – Seperti yang kita ketahui sifat tawadhu adalah sifat rendah hati dan tidak sombong. Sifat tawadhu bukan sekedar tata krama biasa, tapi juga merupakan sikap batin yang berhubungan dengan praktik lahiriyah. Sifat tawadhu juga membawa banyak manfaat dalam kehidupan sosial dan spiritual. Seseorang yang rendah hati akan lebih mudah diterima dalam pergaulan, mendapatkan cinta dan penghormatan dari orang lain, serta terhindar dari sifat iri dan dengki.

 

Dalam Islam, tawadhu bukan berarti merendahkan diri secara berlebihan, tetapi menempatkan diri dengan proporsional sesuai dengan ajaran agama dan norma sosial.

 

Sifat tawadhu adalah lawan dari sifat sombong yang merupakan hal negatif dan harus dihindari. Seperti sabda Rasulullah sallallahu alaihi wasallam: 

 

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ. قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً. قَالَ : إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

 

Artinya: “Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya terdapat seberkas kesombongan. Seseorang berkata, ‘Sesungguhnya seseorang itu cinta kepada pakaian bagus dan sandal bagus.’ Lalu Rasulullah SAW. berkata, ‘Sesungguhnya Allah itu Jamil (bagus) dan mencintai hal-hal yang bagus, (dan) kesombongan (itu pada hakekatnya) adalah menyombongi Allah Yang Haq dan meremehkan manusia’,” (HR Muslim).

 

Nabi Muhammad SAW juga senantiasa memerintahkan umatnya untuk selalu berperilaku tawadhu dan menjauhi sifat berbangga diri atau sombong, dalam hadits beliau bersabda : 

 

إِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لَا يَبْغِيَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلَا يَفْخَرَ أَحَدٌ

 

Artinya : “Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku agar kalian bertawadhu sehingga tak seorangpun menyombongkan diri kepada yang lain, dan seseorang tiada menganiaya kepada yang lainnya,” (HR. Muslim).

 

Banyak sekali ayat Al Qur’an dan hadist nabi yang menerangkan tentang larangan sombong, meskipun begitu, ada waktu perilaku sombong diperbolehkan. seperti yang dikatakan syeikh Abu Said dalam kitabnya Baqirah Al Mahmudiyah :

 

التكبر على المتكبر صدقة  

 

Artinya: ”Sombong kepada orang sombong adalah sedekah.”

 

Berdasarkan pernyataan tersebut sombong kepada orang yang sombong hukumnya bukan lagi mubah, akan tetapi sunnah. Hal ini disebabkan jika kita tawadhu di hadapan orang yang sombong maka dia akan terus berada dalam kesesatan.

 

Pengecualian ini juga ada pada perilaku tawadhu. Seperti jawaban Abu Hasan Asy Syadzili ketika ditanya pendapat beliau tentang ibadah secara sembunyi-sembunyi (tawadhu), beliau menjelaskan: 

 

اعلنوا بطَاعَتِكُمْ كَمَا أَعْلَنُوا بِمَعْاصِهِم

 

Artinya: ”Maklumkanlah (tampakkanlah) ketaatanmu seperti mereka menampakkan (terang-terangan) ketika mereka melakukan maksiat.”

 

Dari sini kita tahu bahwa tidak semua ibadah harus kita lakukan secara sembunyi-sembunyi demi melakukan perilaku tawadhu, karena akan menghambat syiar.

 

Di sisi lain, pengecualian dalam tawadhu menunjukkan bahwa Islam mengajarkan keseimbangan dalam bersikap. Bersikap tegas terhadap kesombongan bukan berarti ikut-ikutan sombong, melainkan sebagai bentuk perlindungan diri dan dakwah agar orang sombong menyadari kekeliruannya. Dengan demikian, tawadhu yang benar adalah sikap rendah hati yang tetap berlandaskan kebijaksanaan, bukan kelemahan, sehingga dapat membawa kebaikan bagi diri sendiri dan orang lain.

 

Wallahu a’lam

Oleh Dani Fajar Mujtaba 

Sign Up Newsletter

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.

Santri tidak hanya dibina untuk cerdas secara intelektual,
Learn More
tetapi juga matang secara emosional,
Learn More
dan yang paling utama, cerdas spiritualnya.
Learn more

Follow Ya

Terbaru