Pemimpin Zalim: Taat atau Melawan? berikut dalam perspektif islam

pemimpin-zalim.png

Share

JURNALISTIK ASY SYADZILI 4 – Dalam perspektif Islam, Negara memiliki peran penting dalam menjaga kesejahteraan dan keadilan bagi seluruh rakyatnya. Negara yang mengimplementasikan seluruh prinsip-prinsip dasar Islam dalam seluruh aspek kehidupan adalah Negara yang baik menurut Islam. Tentu saja, yang bertanggung jawab atas Prinsip-prinsip tersebut adalah pemerintah.Imam Baihaqi meriwayatkan dalam kitab Syu’ab al-Iman :

 

“السلطان ظل الله في الأرض”

 

Artinya : “Pemimpin itu laksana naungan Allah yang berada di bumi”

 

Derajat seorang pemimpin dalam Islam sangatlah tinggi, bahkan dikatakan sebagai bayangan Allah subhanahu wa ta’ala di bumi. Alasannya, Pemimpin adalah tempat umat mengeluh dan mengadu. Pemimpin pula tempat orang yang lemah menuntut Hak. Pun, kepada pemimpin juga orang terdzolimi mengadu nasib dari orang yang berkekuasaan dan berkekuatan.

 

Tanggung jawab besar yang diemban oleh seorang pemimpin, membuat mereka diberikan suatu keutamaan oleh Allah.

 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ الْإِمَامُ الْعَادِلُ

 

Artinya : “Dari Abu Hurairah ra, dari Nabi Muhammad saw, ia bersabda, ‘Ada tujuh kelompok orang yang dinaungi oleh Allah pada hari tiada naungan selain naungan-Nya, yaitu pemimpin yang adil.” (Bukhari Muslim)

 

Pada dasarnya, Islam mewajibkan umatnya untuk selalu menaati para pemerintah. Hal ini dijelaskan dalam Al-Qur’an surah An-Nisa’ ayat 59 :

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ

 

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.”

 

Lalu bagaimana jika pemimpin kita Dzolim?

 

Kewajiban menaati pemimpin ini juga tidak bisa ditawar, tidak boleh hukumnya jika kita memberontak kepada pemimpin yang diangkat secara sah dan konstitusional. Bahkan ketika seorang pemimpin bersikap zalim kita tetap wajib taat kepadanya. Imam Al-Ghazali menuturkan dalam kitabnya Ihya’ Ulumuddin :

 

واعلم أن السلطان به قوام الدين فلا ينبغي أن يستحقر وإن كان ظالماً فاسقاً

 

Artinya ; “Dan ketahuilah bahwa pemimpin adalah pilar agama, maka tidak sepantasnya dia dihina, meskipun dia adalah seorang yang zalim dan fasik.”

 

 

Perintah tetap taat kepada pemimpin yang dzolim ini juga dijelaskan dalam hadist Nabi

 

يَكُوْنُ بَعْدِيْ أَئِمَّةٌ لاَ يَهْتَدُوْنَ بِهُدَايَ وَلاَ يَسْتَنُّوْنَ بِسُنَّتِي وَسَيَقُوْمُ فِيْهِمْ رِجَالٌ قُلُوْبُهُمْ قُلُوْبُ الشَّيَاطِيْنِ فِي جُثْمَانِ إِنْسٍ. (قَالَ حُذَيْفَةُ): كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ؟ قَالَ: تَسْمَعُ وَتُطِيْعُ لِلْأَمِيْرِ وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ  

 

Artinya: “Akan datang setelahku para pemimpin yang tidak mengikuti petunjukku, tidak menjalani sunnahku, dan akan berada pada mereka orang-orang yang hati mereka adalah hati-hati setan yang berada dalam jasad manusia. Hudzaifah berkata, Wahai Rasulullah, apa yang aku perbuat jika aku menemui mereka? Beliau menjawab, Engkau dengar dan engkau taati walaupun punggungmu dicambuk dan hartamu diambil” (HR Muslim).

 

 

Ibnu Rusyd, seorang filsuf dan Ulama di Andalusia, Juga menuturkan sebuah pendapat tentang taat kepada pemimpin yang dzolim. Meskipun banyak yang tidak menyukainya, beliau bertutur dalam kitabnya :

واجب على الرجل طاعة الإمام فيما أحب أو كره، وإن كان غير عدل، ما لم يأمره بمعصية 

 

Artinya : “Wajib atas seseorang taat kepada pemimpin, pada apa yang ia sukai dan ia benci, meskipun pemimpin itu berlaku tidak adil. Tapi dengan catatan, pemimpin itu tak menyuruh maksiat pada Allah.”

 

Dengan demikian, Islam memberikan perhatian yang sangat besar terhadap keberadaan dan kedudukan seorang pemimpin dalam suatu negara. Pemimpin adalah pilar tegaknya agama, keadilan, dan kesejahteraan umat. Oleh karena itu, Islam mewajibkan umatnya untuk menaati pemimpin, selama mereka tidak memerintahkan kepada kemaksiatan.

Ketaatan ini merupakan bentuk tanggung jawab sosial dan komitmen terhadap stabilitas dan ketertiban dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.Namun, Islam juga memberikan ruang untuk amar ma’ruf nahi munkar terhadap pemimpin yang menyimpang, selama dilakukan dengan cara yang santun, damai, dan tidak menimbulkan kerusakan yang lebih besar.

Umat Islam harus senantiasa bersikap bijak dan adil dalam menyikapi kepemimpinan, tidak mudah terprovokasi untuk memberontak, serta tetap menjunjung tinggi adab dan akhlak dalam menasihati ataupun menyampaikan aspirasi kepada penguasa. Dengan begitu, keseimbangan antara ketaatan dan koreksi tetap terjaga dalam bingkai syariat.

 

Wallahu a’lam

Oleh Dani Fajar Mujtaba

Sign Up Newsletter

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.

Santri tidak hanya dibina untuk cerdas secara intelektual,
Learn More
tetapi juga matang secara emosional,
Learn More
dan yang paling utama, cerdas spiritualnya.
Learn more

Follow Ya

Terbaru