Menggali Makna Kesucian dan Keutamaan Bulan Ramadhan

Ramadhan.png

Share

JURNALISTIK ASY SYADZILI 4 – Hari Raya idul adha merupakan hari besar kedua bagi umat islam setelah hari raya idul fitri. Hari raya idul adha jatuh setiap tanggal 10 Dzulhijjah menurut tahun Hijriyah.

 

Bulan Dzulhijjah biasa disebut dengan bulan haji, dan tepat hari raya idul adha adalah puncaknya ibadah haji. Dimana seluruh umat muslim di dunia berkumpul di tanah suci untuk melaksanakan rukun islam yang kelima ini.

 

Pada hari raya ini, semua umat muslim di dunia disunnahkan untuk berpuasa selama 9 hari. Dimulai dari tanggal 1 Dzulhijjah sampai dengan tanggal 9 Dzulhijjah.

 

Selain berpuasa, pada bulan ini juga dianjurkan untuk menyembelih hewan kurban seperti unta, sapi dan kambing minimal sekali seumur hidup. Hal ini bertujuan untuk mendekatkan diri kepada sang Pencipta, dan mengajarkan akan arti ketaatan ataupun keikhlasan.

 

Seperti kisah Nabi Ibrahim a.s dan putranya Nabi Ismail a.s yang bermula ketika Allah SWT menguji Nabi Ibrahim a.s untuk menyembelih putra yang dinanti sangat lama. Rasa sayang pada putranya memang sangat besar, namun lebih besar rasa sayangnya pada Allah SWT sehingga Nabi Ibrahim memenuhi perintah-Nya.

 

Berkurban sangatlah dianjurkan bila mampu, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ibnu Majah yang berbunyi :

 

مَنْ وَجَدَ سَعَةً فَلَمْ يُضَحِّ فَلاَ يَقْرَبَنَّ مُصَلاَّنَ

 

Artinya : “Barang siapa yang memiliki kelimpahan (harta), sedangkan ia tidak berkurban,

 

Hukum berkurban itu sendiri adalah sunnah muakkad, tetapi wajib untuk Rasulullah SAW. Hal ini didasarkan pada sabda beliau yang berbunyi :

 

أمرت بالنحر وهو سنة لكم (رواه الترمذي)

 

Artinya : “Aku diperintahkan (diwajibkan) untuk berkurban, dan hal itu merupakan sunnah bagi kalian,” (Hr. Tirmidzi).

 

Berkurban juga mempunyai beberapa keutamaan, diantaranya:

 

Untuk Meneladani Kisah Nabi Ibrahim a.s

 

Keutamaan yang terakhir adalah untuk meneladani kisah Nabi Ibrahim a.s yang diuji oleh Allah SWT untuk menyembelih putra yang sangat dinantinya, melewati mimpi yang dijelaslan dalam Al-Qur’an surah As-shaffat ayat 102:

 

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

 

Artinya : “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. “

 

Nabi Ibrahim segera melaksanakan perintah Allah SWT dengan penuh keikhlasan dan kepasrahan. Lalu Allah SWT mengirimkan seekor domba sebagai pengganti Nabi Ismail a.s.

 

Dan dari kisah inilah yang menjadi awal mula semua umat muslim di dunia sangat dianjurkan untuk melakukan ibadah kurban. 

 

Selain itu, berkurban mengajarkan umat muslim agar tidak terlalu mencintai dunia, lebih memahami arti tentang keikhlasan, kesabaran, ketakwaan, juga nilai tentang berbagi.

 

Menghilangkan Sifat Buruk

 

Berkurban dapat menghilangkan sifat buruk seperti sombong, kikir, egoisme, nafsu serakah ataupun sifat buruk lainnya.

 

Dengan berkurban, diharapkan seseorang akan memaknai hidupnya untuk mencapai ridha Allah semata. Dengan mengorbankan jiwa dan harta untuk-Nya.

 

Seperti pada firman Allah SWT dalam surah Al-Hajj ayat 37 berikut :

 

لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِين

 

Artinya : “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menurunkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.“

 

Oleh karena itu, pada hakikatnya yang diterima Allah dari ibadah kurban itu bukanlah daging atau darah hewan yang dikurbankan, melainkan ketakwaan dan keikhlasan dari orang yang berkurban.

 

Menambah Amal Kebaikan

 

Selain menambah ketakwaan, Kurban juga dapat menambah kebaikan. Karena Allah SWT akan memberikan pahala yang berlipat-lipat bagi setiap umat muslim yang menyisihkan sebagian hartanya untuk berkurban.

 

Seperti hadits dari sahabat Zaid bin Arqam yang berbunyi :

قُلْتُ أَوْ قَالُوا يَا رَسُولَ اللهِ مَا هَذِهِ اْلأَضَاحِيُّ قَالَ سُنَّةُ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ قَالُوا مَا لَنَا  مِنْهَا قَالَ بِكُلِّ شَعْرَةٍ حَسَنَةٌ (رواه الامام  احمد و ابن مجه)

Artinya : “Aku atau mereka bertanya ‘wahai Rasulullah apakah qurban itu?’ Nabi SAW menjawab ‘itulah suatu sunnah ayahmu, Ibrahim’. Mereka bertanya ‘Apakah yang kita peroleh dari qurban itu?’ Rasulullah SAW menjawab ‘Pada setiap lembar bulunya itu kita memperoleh satu kebaikan,”  (Hr. Ahmad dan Ibnu Majah ).

 

Menjadi Saksi Amal Kebaikan di Akhirat

 

Zain Al-Arab menjelaskan bahwa ibadah yang paling utama saat hari raya idul adha adalah menyembelih hewan kurban karena Allah. Seperti pada hadits yang berbunyi :

 

 عن عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا عَمِلَ آدَمِيٌّ مِنْ عَمَلٍ يَوْمَ النَّحْرِ أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ مِنْ إِهْرَاقِ الدَّمِ إِنَّهَا لَتَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَشْعَارِهَا وَأَظْلَافِهَا وَأَنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنْ اللَّهِ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ مِنْ الْأَرْضِ فَطِيبُوا بِهَا نَفْسًا (رواه الترمذي: ١٤١٣ و ابن مجه: ٣١١٧)

 

Artinya : “Dari Aisyah r.a sesungguhnya Rasulullah SAW. bersabda ‘tidak ada suatu amalan yang dikerjakan anak Adam (manusia) pada hari raya Idul Adha yang lebih dicintai oleh Allah dari menyembelih hewan. Karena hewan itu akan datang pada hari kiamat dengan tanduk-tanduknya, bulu-bulunya, dan kuku-kuku kakinya. Darah hewan itu akan sampai di sisi Allah sebelum menetes ke tanah. Karenanya, lapangkanlah jiwamu untuk melakukannya, ” (Hr. At Tirmidzi: 1413 dan Ibnu Majah: 3117).

 

Hewan yang dikurbankan akan mendatangi orang orang yang mengurbankannya dalam keadaan utuh seperti di dunia, setiap anggotanya tidak akan berkurang sedikitpun dan itu akan menjadi nilai.

 

Digambarkan secara metaforis, hewan hewan itu akan menjadi kendaraan untuk melewati jembatan shiratal mustaqim.  Hal ini merupakan balasan bagi orang yang melakukan ibadah kurban.

 

Demikianlah beberapa keutamaan berkurban, semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rezeki pada kita semua agar dapat melaksanakan ibadah kurban maupun ibadah yang lain di bulan Dzulhijjah.

 

 

Wallahu a’lam

oleh Amania Akmel Sahqila

Sign Up Newsletter

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.

Santri tidak hanya dibina untuk cerdas secara intelektual,
Learn More
tetapi juga matang secara emosional,
Learn More
dan yang paling utama, cerdas spiritualnya.
Learn more

Follow Ya

Terbaru