JURNALISTIK ASY SYADZILI 4 – Santri adalah kata yang sering kita dengar di dunia pendidikan khususnya pendidikan islam dan kata santri identik dengan kata pelajar, muslim, tradisional, sederhana, dan jadul kenapa demikian?
Catatan sejarah mengatakan bahwa santri sudah ada jauh sebelum ada kata siswa, sebelum sistem pendidikan modern seperti sekarang bahkan jauh sebelum pendidikan zaman penjajahan hindia belanda lebih tepatnya santri sudah ada sejak zaman wali songo yaitu pada abad ke 14.
lantas apakah hidup santri hanya melulu hanya dengan pendidikan, jadul, tradisional ? jawabannya juga pasti tidak terbukti dengan diperingatinya hari santri setiap tahun di indonesia pada tanggal 22 Oktober sebagai apresiasi para santri terdahulu pada suatu momen para santri memperjuangkan kemerdekaan indonesia yaitu momen Revolusi Jihad 1945.
Jadi siapakah sebenarnya konteks santri yang paling relevan untuk saat ini? kita akan bahas tuntas pada artikel ini.Santri menurut bahasa adalah orang yang mendalami ilmu agama islam (KBBI).
Secara pemahaman masyarakat pada umumnya santri adalah orang yang sedang atau pernah menimba ilmu di asrama pendidikan tradisional islam atau yang lebih dikenal dengan istilah Pondok Pesantren.
Jadi siapakah santri sebenarnya ? untuk menjawab pertanyaan tersebut mari kita perhatikan pengertian Santri dari orang yang sudah malang melintang di bidangnya yang tidak lain adalah Ulama’ atau para Kyai baik ulama’ terdahulu lewat karya karya kitabnya dan ulama’ ulama’ kholaf.
KH Anwar Zaid dalam ceramahnya dawuh kata “santri” berasal dari 2 bahasa yang pertama “san” berasal dari bahasa arab yang artinya Ihsan yang kedua “tri” berasal dari bahasa jawa kuno (sansekerta) yang berarti tiga, Artinya santri adalah pribadi yang mempunyai 3 kebaikan yang terpadu pertama berakhlaq baik kepada Allah, kedua berakhlaq baik kepada sesama, dan ketiga berakhlaq baik kepada Alam Semesta.
KH Hasani Nawawie dalam karyanya menulis :
السنتري بِشَاهِدِ حَالِهِ هُوَ مَنْ يَعْتَصِمُ بِحَبْلِ اللهِ اْلمَتِيْنِ وَيَتَّبِعُ سَنَّةَ الرَّسُوْلِ اْلاَمِيْنِ وَالْحَقِيْقَةِ لاَ يُبَدَّلُ وَلاَيُغَيَّرُ قَدِيْمًا وَحَدِيْثًا وَاللهُ اَعْلَمُ بِنَفْسِ اْلاَمْرِ وَحَقِيْقَةِ اْلحَالِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلاَ يَمِيْلُ يُمْنَةً وَلاَيُسْرَةً فِىْ كُلِّ وَقْتٍ وَحِيْنٍ هَذَا مَعْنَاهُ بِالسِّيْرَةِ
yang artinya : Santri “Berdasarkan peninjauan tindak langkahnya adalah orang yang berpegang teguh dengan al-Qur’an dan mengikuti sunnah Rasulserta teguh pendirian. Ini adalah arti dengan bersandar sejarah dan kenyataan yang tidak dapat diganti dan diubah selama-lamanya. Dan Allah-lah Yang Maha Mengetahui atas kebenaran sesuatu dan kenyataannya.” KH Hasani Nawawie (Pengasuh PP Sidogiri Pasuruan)
Jadi meninjau dari beberapa dalil di atas dapat disimpulkan bahwa santri ialah siapa saja yang menjadikan ilmu agama yaitu Al-Qur’an, hadits, ijma’ dan Qiyas serta selalu memperhatikan dan menaati perkataan atau nasihat guru atau kyainya (selama tidak menyimpang dari agama) sebagai landasan dalam seluruh aspek kehidupan utamanya pada aspek Akhlaq dan Ibadah.
Wallahu A’lam
Oleh M Luqmanul Hakim




