Tak Banyak yang Tahu, Makna Ngabdi di Pesantren dan Barokah Kyai Ternyata…
MEDIA PONDOK ASY SYADZILI 4 – Ngabdi di pesantren berarti mengabdikan diri secara sukarela dan ikhlas di lingkungan pesantren, biasanya dilakukan setelah santri menyelesaikan pendidikannya.
Pengabdian ini merupakan bentuk rasa syukur atas ilmu yang diperoleh, diwujudkan dengan melayani santri dan membantu berbagai urusan pondok seperti mengajar, menjadi pengurus harian, atau melaksanakan kegiatan sosial lainnya.
Apa Itu Ngabdi di Pesantren?
Ngabdi di pesantren, atau sering disebut khidmah, adalah melayani dan berbakti tanpa pamrih pada pengasuh ataupun lembaga sebagai bentuk ta’dhim.
Khidmah juga dapat dimaknai sebagai ungkapan rasa terima kasih sekaligus sarana melatih keikhlasan hati dalam menjemput barokah dari kyai dan ridha Allah SWT.
Pengabdian ini bukan sekadar tugas fisik, tetapi latihan untuk mendewasakan diri, mengamalkan ilmu dan mempersiapkan santri untuk terjun ke masyarakat nanti.
Seperti kisah yang terdapat pada surah Al-kahfi: 66 yang berbunyi:
قَالَ لَهُ مُوسَى هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَى أَن تُعَلَّمَن مِمَّا عُلْفَتَ رُشَدً
Artinya: “Musa berkata kepada Khidhr: ‘Bolehkah aku mengikutimu supaya engkau mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?.”
Ayat ini menunjukkan pentingnya adab seorang murid kepada gurunya. Seperti halnya ta’zhim, tawadhu’, dan khidmah.
Tujuan Khidmah Santri
Di balik keberhasilan sebuah pondok pesantren, ada peran besar para pengurus yang sering kali luput dari sorotan.
Mereka bukan sekadar penjaga kebersihan, penjaga keamanan, atau mengatur jadwal harian. Mereka adalah pelayan santri yang mengabdikan diri dengan sepenuh hati.
Berikut di antaranya beberapa tujuan khidmah di pesantren:
- Mencari keberkahan: Mengabdi adalah salah satu cara untuk mendekatkan diri kepada kiai dan mencari keberkahan ilmu serta kehidupan.
- Mengamalkan ilmu dan mengembangkan diri:
Kesempatan bagi santri untuk mempraktikkan ilmu yang telah dipelajari, melatih kemampuan komunikasi dan kepemimpinan, serta mengembangkan bakat dan minat mereka.
- Melayani dan membimbing santri: Pengabdian juga mencakup peran sebagai pelayan bagi santri lain, membantu mereka dalam menuntut ilmu dan membentuk akhlak.
- Mempersiapkan diri untuk masyarakat: Melatih santri untuk peka terhadap lingkungan, menumbuhkan kepedulian, dan menjadi agen perubahan yang siap berkontribusi di masyarakat setelah lulus.
- Meningkatkan keikhlasan: Melatih hati agar mampu beramal tanpa pamrih.
Dari sini, khidmah santri menjadi bagian penting dari pendidikan karakter pesantren yang dapat membentuk akhlak mulia serta sikap rendah hati.
Arti Barokah Kyai dalam Kehidupan Santri
Dalam kehidupan santri, barokah berarti bertambahnya kebaikan dan kemanfaatan dari Allah SWT.
Barokah tidak selalu berupa harta, tetapi sering hadir dalam bentuk ketenangan, kelancaran rezeki, dan keberhasilan yang tidak terduga.
Allah SWT berfirman:
…وَلَوْ أَن َّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ يَرَكَاتِ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ
Artinya: “Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan membukakan untuk mereka berbagai keberkahan dari langit dan bumi…,” (Qs. Al- A’raf: 96)
Bagi santri, barokah kyai diyakini sebagai buah dari hubungan yang tulus dan penuh adab.
Melalui khidmah, santri berharap memperoleh ilmu yang bermanfaat (ilmu nafi’) serta kehidupan yang penuh keberkahan.
Barokah bukan hal mistis, melainkan “ziyadatul khair” atau bertambahnya kebaikan dalam hidup.
Santri yang tulus berkhidmah seringkali lebih mudah memahami pelajaran karena ada ridho guru yang menjadi jalan turunnya rahmat Allah.
Kehidupan yang penuh kemudahan dalam rezeki, pekerjaan, dan sosial seringkali didapatkan dari keikhlasan ketika mengabdi di pesantren.
Pandangan Masyarakat tentang Santri Ngabdi
Fenomena ngabdi di pesantren sering menimbulkan beragam pandangan.
Sebagian masyarakat memahami bahwa ngabdi adalah bentuk pengabdian tulus sebagai wujud terima kasih dan sarana mencari keberkahan hidup.
Namun, ada pula yang menilai tradisi ini seperti
“memperbudak santri.”
Padahal, bagi santri sendiri, ngabdi bukan keterpaksaan melainkan pilihan sadar yang dilandasi cinta kepada ilmu dan guru.
Banyak kisah menunjukkan bahwa santri yang pernah berkhidmah justru lebih mudah sukses setelah kembali ke masyarakat.
Ada yang menjadi guru, wirausahawan, hingga tokoh masyarakat. Semua diyakini lahir dari keberkahan masa pengabdian.
Mengabdi bukan Perbudakan, tapi Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter di pesantren melalui pengabdian berfokus pada pembentukan akhlak dan kepribadian santri melalui keteladanan, kegiatan sehari-hari, dan semangat ikhlas.
Santri juga diajarkan untuk menundukkan ego, menghormati guru, dan menguatkan niat mencari ridho Allah SWT.
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيَعْرِفْ لِكَبِيرِنَا حَقَّهُ
“Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang lebih tua, tidak menyayangi yang lebih muda, dan tidak mengetahui hak orang berilmu.” (HR. Ahmad)
Santri yang melayani guru bukan karena diperintah, melainkan karena memahami bahwa khidmah adalah jalan menuju ilmu yang penuh berkah.
Dari kedekatan inilah santri menyerap akhlak, bukan sekadar pelajaran, untuk kemudian diamalkan kepada orang tua dan masyarakat..
Pelajaran Tersembunyi di Balik Tradisi Ngabdi
Tradisi ngabdi di pesantren mengajarkan nilai gotong royong (ro’an), rasa hormat, kemandirian, dan solidaritas.
Melalui ngabdi, santri memelihara kearifan lokal dan warisan budaya pesantren yang telah hidup turun-temurun di Nusantara.
Berikut di antaranya beberapa pelajaran yang dapat diambil dari tradisi ngabdi:
- Membuat kopi untuk kyai bukan sekadar menyeduh minuman, tapi belajar perhatian dan ketulusan.
- Menata sandal kyai bukan soal alas kaki, tapi adab mendahulukan guru sebelum diri sendiri.
- Membersihkan ndalem bukan pekerjaan pesuruh, tapi menjaga lingkungan sumber ilmu.
- Membantu pembangunan pondok bukan perintah, tapi amal jariyah yang berkelanjutan.
- Semua itu menjadi pelajaran tersembunyi yang tak ditemukan di bangku sekolah mana pun.
Inilah bentuk nyata pendidikan karakter yang membentuk santri menjadi pribadi rendah hati, sabar, dan ikhlas.
Warisan Luhur Pesantren yang Tak Lekang Zaman
Ngabdi di pesantren bukan sekadar meluangkan waktu setelah lulus, tapi sebuah perjalanan batin untuk menanamkan makna keikhlasan.
Di sanalah santri belajar bahwa ilmu tak hanya untuk diri sendiri, melainkan juga untuk memberi manfaat dan keberkahan bagi banyak orang.
Melalui mengabdi kepada kyai, santri belajar tentang adab, ketulusan, dan makna barokah.
Di era serba instan, ketika hubungan guru dan murid seringkali transaksional, tradisi ini menjadi pengingat pentingnya mencari keberkahan dalam menuntut ilmu.
Inilah warisan luhur pesantren tempat di mana ilmu dan adab tumbuh bersama menuju ridho Allah SWT.
Tradisi khidmah di pesantren adalah warisan luhur yang membentuk karakter santri menjadi pribadi yang rendah hati dan beradab.
Mari terus jaga dan lestarikan tradisi ini, karena di sanalah barokah ilmu tumbuh dan menjadi bekal menuju ridha Allah SWT.
Wallahu A’lam
Fadiya fatimatuz zahro




