JURNALISTIK ASY-SYADZILI 4 – Setiap pesantren lahir dari perjuangan penuh liku dan pengorbanan.
Begitupun dengan berdirinya Pondok Pesantren Salaf Qur’an Asy-Syadzili yang diwarnai berbagai lika liku perjalanan KH. Ahmad Syadzili Muhdlor.
- Ahmad Syadzili Muhdlor yang biasa dipanggil dengan Kyai Syadzili lahir pada tahun 1918 di Sidayu, Gresik. Beliau putra dari Haji Muhdlor dan Nyai Murthosiyah.
Namun disaat Kyai Syadzili menginjak umur empat tahun, Nyai Murthosiyah wafat dan beliau beserta adiknya diasuh oleh Haji Muhdlor.
Kyai Syadzili pun tumbuh menjadi pribadi yang disiplin, sehat badan, batin, dan akal pikirannya.
Perjalanan Menuntut Ilmu
Keinginan Haji Muhdlor untuk putra-putrinya adalah memiliki pemahaman agama yang mendalam dan luas.
Maka Kyai Syadzili dititipkan kepada saudara Haji Muhdlor yang berdomisili tidak jauh dari rumahnya, yaitu KH. Munawwar Nur, seorang ulama’ yang mumpuni dalam bidang Al-Quran.
Beliau mengasuh Pondok Pesantren Al-Munawar. Di pesantren inilah Syadzili memulai perjalanannya.
- Belajar Al-Qur’an di Pesantren
Pada umur sembilan tahun, tepat setelah Kyai Syadzili khitan. Beliau dititipkan pada KH. Munawwar Nur.
Kyai Syadzili bersungguh-sungguh dalam belajar dan mencintai Al-Quran. Kedisiplinan yang sudah ditanamkan sejak kecil oleh ayahnya membentuk karakter yang kuat sebagai anak yang mencintai ilmu.
Di saat anak-anak seusianya asyik bermain, Kyai Syadzili menghabiskan waktu demi waktu dengan membaca Al-Quran dan memperdalam ilmu.
Pada usia yang cukup muda, Kyai Syadzili sudah terbiasa dengan hal-hal keilmuan khususnya ilmu agama.
Tidak butuh waktu yang lama bagi Kyai Syadzili kecil pada waktu itu untuk menyelesaikan setoran tahfidz 30 juznya kepada Kyai Munawwar.
Kecerdasan dan ketekunan dalam usahanya menghafalkan kitab suci benar-benar membuahkan hasil yang manis. Jerih payahnya menahan hawa nafsu di usia yang sangat muda tak bisa sama sekali disebut sia-sia.
Dalam jangka masa yang cukup singkat, yakni satu tahun saja, Kyai Syadzili berhasil mengkhatamkan Al-Quran secara bil-ghoib saat masih berusia 10 tahun.
Setelah menyelesaikan setorannya kepada sang guru, Kyai Syadzili tetap melanjutkan perjalanannya menuntut ilmu di tempat yang sama, Sidayu.
Namun, di tengah masa pembelajaran di pondok Kyai Munawwar itu, Kyai Syadzili sempat jenuh dan tidak betah. Marena pada waktu itu beliau ingin melanjutkan mondok ke pesantren yang mendalami pembelajaran kitab kuning.
- Berpindah ke Tuban
Kyai Syadzili menyampaikan keinginannya pada sang ayah, lalu Haji Muhdlor memutuskan untuk sowan pada Kyai Munawwar karena bingung akan keinginan putranya.
Namun, Kyai Munawwar mengizinkan Kyai Syadzili untuk berpindah pondok guna memperdalam ilmu.
Haji Muhdor pun memberangkatkan Kyai Syadzili melanjutkan perjalanan mencari ilmu ke pondok kitab, yakni pondok pesantren di Kranji, Lamongan dan Langitan, Tuban.
Kyai Syadzili berkelana jauh ke dua pondok tersebut untuk memperdalam ilmunya selama kurang lebih 8 tahun.
Sampai suatu hari beliau tersadar jika beliau disibukkan oleh banyaknya bidang ilmu yang dipelajari hingga waktu yang seharusnya digunakan untuk menjaga hafalan Al-Quran terkuras.
Selama kurun waktu delapan tahun, waktu yang cukup lama untuk menjaga hafalan ayat-ayat Al-Quran terlewat dan hafalan itu pudar sedikit demi sedikit.
Waktu itu Kyai Syadzili berusia 18 tahun, Beliau kembali ke pesantren Al-Munawwar sebagai seorang remaja yang membawa ilmu ilmu baru.
Lama memperdalam ilmu di Pesantren Al-Munawwar, Kyai Syadzili dipanggil oleh Kyai Munawwar untuk dinikahkan dengan putrinya, Ning Muniroh.
- Menuntut Ilmu di Tebuireng
Kyai Munawwar mengutus Kyai Syadzili untuk memperdalam ilmu di Tebuireng, Jombang. Tujuannya adalah untuk belajar kepada KH. Hasyim Asy’ari.
Dengan sangat antusias, Kyai Syadzili berangkat ke pesantren Tebuireng untuk menjalankan perintah gurunya.
Ketika berada di pesantren Tebuireng, Kyai Syadzili belajar langsung dari Kyai Hasyim kitab-kitab dari berbagai bidang ilmu.
Kyai Syadzili memiliki posisi istimewa, yakni ketika penjelasan Kyai Hasyim bersinggungan dengan ayat Al- Quran, Kyai Syadzili diutus untuk membacakan ayat tersebut.
Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa Syadzili telah menghafal Al- Quran sejak kecil dan memiliki keindahan suara dalam melantunkan ayat-ayat suci.
Di tengah menuntut ilmu, Haji Muhdlor wafat. Namun Kyai Syadzili tetap bersemangat belajar di Tebuireng.
Tapak Perjalanan
Sepulangnya dari Tebuireng, Kyai Syadzili kembali berkumpul dengan istri serta keluarganya. Beliau memulai kesehariannya dan membangun harmoni rumah tangga yang tentram.
Menjadikan keluarga yang kesehariannya begitu melekat dengan Al-Qur’an, dan bertempat tinggal di Grobokan, Gresik.
- Mengajar di Sidayu
Kyai Syadzili menemani sang mertua, Kyai Munawwar, mengajar di Pondok Pesantren Al-Munawwar.
Beliau mengajar Al-Qur’an dan beberapa kitab kuning. Beliau ikut serta mengembangkan keilmuan di Pondok Al-Munawwar Sidayu bersama putra-putra Kyai Munawwar.
Berkat keseriusan Kyai Syadzili bersama guru yang lain, pondok tersebut berhasil mencetak generasi-generasi alim ulama’ yang di masa mendatang turut melakukan syiar ajaran-ajaran Islam dan Al-Qur’an.
Di tengah kesibukan beliau mengajar para santri, beliau juga mencari nafkah dengan berjualan emas di pasar.
Beliau tak mau merepotkan sang mertua dengan mencari nafkah sendiri untuk keluarganya.
Hingga akhirnya setelah sepuluh tahun menjalani rumah tangga, Nyai Muniroh wafat dan kesedihan pun menyelimuti keluarga beliau.
- Mengamalkan Ilmu di Tempat Baru
Wafatnya Nyai Muniroh tak mematahkan semangat Kyai Syadzili untuk mengamalkan ilmunya. Hingga suatu saat terdapat seseorang kaya dari dari Sumberpasir, Malang, yang berniat mengajak Kyai Syadzili membantunya dakwah di daerahnya.
Kyai Syadzili sangat antusias dengan itu, beliau mengiyakan ajakan seorang itu, yang bernama Haji Marzuki.
Tak mudah bagi beliau berdakwah di daerah yang kondisi sosial masyarakat yang masih menormalisasikan judi, minum khamr, dan sebagainya.
Beliau memulai kegiatan dakwah dengan mengajar ilmu Al-Qur’an, bahkan saat itu banyak masyarakat yang menentang.
Beliau terus bersemangat dengan merintis madrasah diniyah serta pengajian Al-Qur’an bersama Kyai Ghozali.
Beliau tak hanya mengajarkan ilmu Al-Qur’an, ilmu fiqih dan ilmu agama lainnya juga diajarkan pada murid-muridnya.
Melihat semangat Kyai Syadzili, Haji Marzuki menjadikan guru bagi putrinya, Nyai Rohmah. Yang pada saat itu masih berusia 9 tahun.
Namun, Haji Marzuki berniat menjodohkan keduanya. Tetapi dengan syarat dari Nyai Rohmah, yakni beliau tak mau melakukan hubungan suami istri sebelum menyelesaikan belajarnya.
- Banjir Bandang Mengubah Semuanya
Pada tahun 1965 M, terjadi peristiwa banjir bandang di Sumberpasir.
Disaat semua warga berlari guna berlindung di masjid, tidak dengan Kyai Syadzili dan Kyai Ghozali. Beliau berdua berusaha mencegah banjir agar tak masuk ke desa dengan berdoa dan dengan izin Allah, pohon-pohon jatuh dan menutup jalan masuk air yang menuju desa.
Hal itu membuat masyarakat Sumberpasir tersadar, dan secara bertahap menerima bimbingan serta meninggalkan perilaku kurang baik.
- Kondisi Ekonomi
Keluarga Kyai Syadzili pernah hidup dalam kondisi ekonomi yang sangat sulit.
Dalam beberapa hari, pernah mereka hanya makan nasi dari gaplek (singkong) dan mengalami kekurangan gizi, termasuk Gus Rofiq yang sempat sakit parah.
Tanpa penghasilan tetap, Kyai Syadzili terkadang harus berhutang atau mengandalkan bantuan tetangga. Meski hidup serba kekurangan, Nyai Rohmah selalu menguatkan anak-anaknya agar tidak minder.
Di tengah kesulitan, sebuah momen kecil memberi kebahagiaan yakni saat Gus Mujib memenangkan hadiah televisi dari acara yang ia tonton di rumah tetangga.
Mendirikan Pesantren
Sejak datang ke Desa Sumberpasir, Kyai Syadzili hanya mengajar di madrasah Al-Qur’an dan diniyah di Gedung Dakwah Sumberpasir (kini SMK Sumberpasir).
Barulah di usia senja beliau mulai menerima santri mukim di rumahnya. Santri pertama beliau adalah KH. Maftuh Sa’id, pendiri Pondok Al-Munawwarriyah Bululawang, serta santriwati pertama bernama Maftuhah dari Mergosono.
Sebelum memiliki asrama, Kyai Syadzili membimbing santri di teras depan rumahnya.
Suatu saat seorang dermawan ingin membeli rumah untuk tempat ngaji, Kyai Chusaini mengusulkan membelikan rumah untuk pondok Kyai Syadzili.
Rumah seharga 3,7 juta pun dibeli, lalu dibangun menjadi musholla dan asrama dengan total biaya sekitar 6 juta.
Meski sempat dicemooh warga karena dianggap mustahil membangun pondok dalam kondisi miskin, Kyai Syadzili tetap teguh berjuang hingga akhirnya memiliki asrama santri sendiri.
Keseharian Mengajar Santri
Kyai Syadzili dikenal sebagai sosok tegas, terutama dalam mendidik bacaan Al-Quran, kedisiplinan, dan adab santri.
Ketegasannya muncul dari keinginan agar semua santri membaca Al-Quran dengan benar dan tartil.
Jika ada kesalahan meski hanya satu huruf, beliau tak segan menyentak sebagai bentuk teguran, bahkan suaranya kerap terdengar hingga pondok putri.
Kyai Syadzili juga memberikan pengajaran agar para santri memiliki etika dan perilaku yang baik.
Akhir Hayat
Empat belas hari sebelum wafat, Kyai Syadzili meninggalkan tiga wasiat penting kepada Nyai Rohmah.
Pertama, “Arek-arek kudu tetep golek ilmu” – Anak-anak harus tetap mencari ilmu. Pesan ini menegaskan harapan beliau agar seluruh keturunannya terus belajar dan memperluas wawasan, agar bisa memberi manfaat bagi masyarakat serta melanjutkan perjuangan dakwah beliau.
Kedua, beliau berpesan, “Aku lek mati slametono” – Jika aku meninggal, doakan aku selamat. Wasiat ini diwujudkan dengan diadakannya haul Kyai Syadzili setiap tahun di bulan Jumadil Awwal, sebagai bentuk doa dan penghormatan dari keluarga dan santri.
Ketiga, Kyai Syadzili mengizinkan siapapun yang ingin membantu membangun pesantren setelah wafatnya. Beliau berkata, “Lek aku mati, sing pingin mbangun pondok, gak apa-apa, tak izini.”
Tiga wasiat sederhana ini menjadi landasan perjuangan keluarga dan santri Kyai Syadzili hingga hari ini.
Perjuangan KH. Ahmad Syadzili Muhdlor menjadi bukti ketulusan dakwah dan pendidikan Al-Qur’an yang beliau rintis dari kesederhanaan.
Kini, perjuangan itu diteruskan oleh keluarga dan para santri, menjadikan Pondok Pesantren Salaf Qur’an Asy-Syadzili sebagai warisan ilmu dan amal jariyah yang terus mengalir.
Wallahu a’lam
oleh Amania Akmel Sahqila




