JURNALISTIK ASY-SYADZILI 4 – Generasi Z atau yang biasa disebut Gen Z adalah kelompok demografis yang lahir antara pertengahan 1990-an hingga awal 2010-an, biasanya antara tahun 1997 dan 2012.
Mereka adalah generasi yang tumbuh besar di era digital, dengan teknologi dan internet sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan mereka. Dengan begitu, tak mungkin mereka terlepas dari sosial media.
Bagi Gen Z, sosial medial bukan sekadar hiburan, melainkan ruang hidup, di sana mereka belajar, berinteraksi, bahkan membangun jati diri. Tidak heran jika tekanan mental semakin terasa seperti cemas, overthinking, insecure, hingga depresi.
Realita Gen Z di Era Digital
Generasi Z tumbuh di tengah dunia digital yang serba cepat.
Salah satu bukti nyata keresahan Gen Z adalah munculnya second account di media sosial. Akun utama dipoles rapi dengan pencitraan, penuh prestasi, filter, dan “kebahagiaan” palsu.
Sedangkan di second account, mereka baru berani jujur menulis keresahan, curhat, bahkan hal-hal yang tidak bisa mereka tampilkan ke publik.
Hal ini menunjukkan bahwa mereka sangat menjaga citra harga dirinya di sosial media.
Fenomena Cancel Culture
Ramai juga di salah satu platform media sosial, istilah yang disebut cancel culture.
Cancel culture adalah fenomena dimana seseorang atau kelompok dihukum secara sosial di media karena dianggap melakukan kesalahan atau menyinggung. Bisa juga disebut dengan pemboikotan.
Dampak dari cancel culture bisa sangat serius, seperti: tekanan mental yang berat, penurunan produktivitas dan kinerja, ketegangan sosial yang meningkat.
Selain itu, cancel culture juga bisa mengancam kebebasan berpendapat dan membuat orang takut untuk berbicara atau mengekspresikan diri secara bebas. Ini bisa menciptakan iklim yang tidak sehat dalam berkomunikasi dan berinteraksi.
Seperti contoh seseorang yang dikucilkan sebab bentuk tubuh yang berbeda, hingga sang korban merasa insecure.
Tantangan Unik yang Dihadapi Gen Z
Generasi Z tumbuh di era digital dengan tekanan luar biasa. Media sosial membuat mereka sering membandingkan diri, akademis menuntut kesempurnaan, sementara ekspektasi lingkungan membuat banyak yang terjebak dalam overthinking, kecemasan, bahkan depresi.
Mereka merasa tidak cukup, lelah dengan standar yang tinggi, hingga kadang kehilangan jati diri. Berbagai penelitian menyebutkan Gen Z menghadapi tantangan unik, seperti:
Rasa Takut dan Cemas
Gen Z sangat rentan terhadap hal ini disebabkan tekanan yang lebih tinggi terkait pendidikan, pekerjaan, dan ekspektasi hidup, yang berdampak pada kesehatan mental mereka.
Selain itu, penggunaan media sosial yang berlebihan dan perbandingan sosial juga dapat memicu kecemasan dan masalah kesehatan mental lainnya.
Bukan karena kurang iman, Allah SWT mengisahkan dalam Al-Qur’an surah Thaha ayat 67-68, saat nabi Musa AS merasa takut dan cemas karena Fir’aun hendak membunuhnya.
فَأَوْجَسَ فِي نَفْسِهِ خِيْفَةٌ مُوسَى قُلْنَا لَا تَخَفُ إِنَّك َ أَنْتَ الْأَعْلَى
Artinya: “Maka terlintaslah dalam hati Musa (perasaan) takut. Kami berfirman ‘Jangan Takut! Sesungguhnya engkaulah yang paling unggul.”
Overthinking dan Tidak Percaya Diri
Masalah ini seringkali dialami oleh Gen Z, sebab mereka cenderung menghabiskan waktu berlebihan untuk memikirkan berbagai hal, mulai dari hal-hal kecil hingga masalah besar, yang seringkali memicu kecemasan dan stres.
Beberapa faktor yang berkontribusi pada overthinking pada Gen Z antara lain penggunaan media sosial yang berlebihan, tekanan untuk sukses di usia muda, dan kurangnya keterampilan dalam mengelola stres.
Al-Qur’an juga berbicara tentang hal ini, seperti pada surah Asy-Syura ayat 12-14, yang mana nabi Musa AS pernah Overthinking.
Seperti,
“Bagaimana jika mereka menolak Saya?”
“Bagaimana jika saya tidak bisa berbicara?”
“Bagaimana jika mereka menyakiti saya?”
Allah SWT membalas dalam surah Thaha ayat 46 yang mengatakan, “Kami bersama kalian”.
Namun, Allah SWT juga tidak menganjurkan manusia terjebak dalam pemikiran yang berlebihan. Seperti yang dijelaskan pada Qur’an surah Yunus ayat 36:
وَمَا يَتَّعُ اكْثَرَهُمْ إِلَّا ظَنَّا إِنَّ الظَّنَّ لَا يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيَا إِنَّ اللَّهَ عَليم بِمَا يَفْعَلُونَ
Artinya: “Kebanyakan mereka hanya mengikuti dugaan. Sesungguhnya dugaan itu tidak sedikit pun berguna menyangkut (perolehan) kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka lakukan.”
Kesedihan yang Berat
Bukan hanya Gen Z, para nabi juga pernah menangis. Salah satunya nabi Ya’qub AS yang merasakan kesedihan yang mendalam disaat beliau kehilangan putra tercintanya, nabi Yusuf AS hingga kehilangan.
قَالُوا تَاللَّهِ تَفْتَوْا تَذْكُرُ يُوْسُفَ حَتَّى تَكُونَ حَرَضًا أَوْ تَكُوْنَ مِنَ
الْهَلِكِيْنَ
Artinya : “Mereka (putra-putranya) berkata, “Demi Allah, engkau tidak henti-hentinya mengingat Yusuf sehingga engkau (mengidap) penyakit berat atau engkau termasuk orang-orang yang akan binasa (wafat),” (Qs. Yusuf :85)
Namun nabi Ya’qub AS menjawab:
قَالَ إِنَّمَا أَشْكُوْا بَتْي وَحُزْنِ إِلَى اللَّهِ وَأَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ
Artinya: “Dia (Ya’qub) menjawab, “Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku. Aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui,” (Qs. Yusuf: 86).
Artinya, bahkan kesedihan terdalam pun sah untuk dirasakan dan Allah menjadi tempat mengadu.
Beban Hidup
Gen Z menghadapi berbagai beban hidup yang unik, termasuk tekanan ekonomi, persaingan kerja yang ketat, dan tantangan kesehatan mental.
Mereka juga dihadapkan pada budaya konsumtif yang didorong oleh media sosial, serta kekhawatiran tentang masa depan.
Tapi Allah SWT berfirman:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرَا
Artinya: “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan,” (Qs. Al-Insyirah:5).
Sebuah janji dari Allah SWT bahwa setiap kesempitan pasti diikuti jalan keluar.
Sisi Positif dari Gen Z
Meski begitu, Gen Z juga memiliki sisi positif dalam dirinya, diantaranya:
Mereka lebih terbuka membicarakan kesehatan mental, sesuatu yang dulu dianggap tabu.
Berani mencoba perubahan dan mencari jalur alternatif dalam hidup.
Aktif membangun komunitas offline sebagai ruang aman untuk saling mendukung.
Melek teknologi dan mampu memanfaatkannya, termasuk untuk aplikasi dan layanan kesehatan mental.
Singkatnya, Generasi Z menghadapi tekanan yang besar, tapi mereka juga memiliki potensi dan keberanian untuk menemukan solusi yang lebih sehat dan kreatif dalam menghadapi tantangan zaman.
Kisah Ibnu Sina
Ratusan tahun sebelum psikologi modern lahir, Ibnu Sina, seorang filsuf dan tabib muslim sudah menunjukkan kejeniusan dalam memahami jiwa manusia.
Suatu ketika, seorang pangeran mengalami gangguan jiwa, merasa dirinya adalah sapi. Ia menolak makan dan minum, tubuhnya pun semakin lemah.
Ibnu Sina datang, berpura-pura menjadi jagal lalu ia berkata, “Sapi ini terlalu kurus untuk disembelih. Beri dia makan agar kuat dulu.” Pangeran yang percaya dirinya sapi pun mulai makan.
Perlahan, Ibnu Sina mencampur makanan dengan obat-obatan. Hingga akhirnya pangeran pulih, bukan hanya fisik, tapi juga mentalnya.
Kisah ini adalah contoh psikoterapi klasik. Alih-alih memaksa pasien keluar dari delusi, Ibnu Sina memanfaatkan keyakinan pasien sebagai jalan menuju kesembuhan.
Lalu, apa hubungan antara masalah jiwa Gen Z dengan kisah ibnu sina?
Yuk simak!
Relevansi Gen Z dan Pangeran “Sapi”
Gen Z hari ini sering merasa hidupnya “penuh topeng”. Ada yang merasa dirinya tidak cukup baik karena standar media sosial, ada yang kehilangan arah karena tekanan akademis, ada juga yang menutup diri karena luka batin.
Sama seperti pangeran dalam kisah Ibnu Sina yang merasa dirinya adalah seekor sapi. Mereka terjebak dalam “delusi” yang dibentuk oleh pikiran dan lingkungan.
Metode Ibnu Sina
Ibnu Sina tidak menertawakan atau memaksa pangeran berubah, melainkan masuk ke dalam dunia sang pangeran. Ia berkata: “Sapi ini terlalu kurus untuk disembelih. Beri makan dulu.”
Ini adalah bentuk validasi emosi, mengakui perasaan orang lain, lalu perlahan menuntunnya ke arah yang benar.
Gen Z juga butuh hal yang sama, saat ada yang terjebak dalam overthinking, krisis identitas, atau tekanan sosial, yang mereka perlukan bukan ejekan atau ceramah panjang. Mereka butuh didengarkan, dipahami, dan diberi jalan keluar perlahan.
Seorang Gen Z yang insecure karena tubuhnya bukan berarti lemah, tapi butuh dukungan agar bisa menerima diri.
Yang depresi karena tekanan akademis bukan berarti gagal, tapi butuh validasi dan bimbingan.
Yang bingung dengan relasi dan pertemanan, butuh ruang aman untuk bercerita tanpa dihakimi.
Jadi, kisah Ibnu Sina dan pangeran mengajarkan pemulihan dimulai dari validasi, bukan vonis.
Sama seperti Al-Qur’an yang menunjukkan bahwa para nabi pun pernah takut, sedih, bahkan merasa tidak mampu, namun Allah SWT selalu hadir menenangkan makhluknya.
Kesimpulan
Berdasarkan dari kenyataan tersebut, dapat dipahami bahwa kehidupan Gen Z tidak bisa dilepaskan dari dinamika dunia digital.
Kehadiran media sosial bukan hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga ruang untuk belajar, berinteraksi, bahkan membangun identitas diri.
Namun, hal ini sekaligus menghadirkan tantangan berupa tekanan sosial, kebutuhan validasi, serta risiko kecanduan yang bisa mempengaruhi kesehatan mental dan pola hidup mereka.
Pada akhirnya, memahami Gen Z berarti memahami sebuah generasi yang tumbuh bersama arus teknologi. Mereka memiliki potensi besar untuk menjadi inovator, kreator, sekaligus agen perubahan di tengah masyarakat.
Tantangannya adalah bagaimana mereka mampu menyeimbangkan kehidupan nyata dan digital agar tidak hanya menjadi “pengguna” teknologi, tetapi juga menjadi generasi yang bijak, produktif, dan mampu memberikan manfaat bagi lingkungannya.
Wallahua’lam
Oleh Amania Akmel Sahqila




