Tirakat 41 Hari Jadi Tradisi Di Pesantren? Ini Sejarah Dan Dalilnya

41hari.png

Share

JURNALISTIK ASY SYADZILI 4 – Tirakat dalam konteks pesantren merupakan bentuk Ibadah dan latihan spiritual yang dilakukan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

 

Tirakat  Dalam Tradisi Pesantren

Istilah “tirakat” berasal dari kata “thariqah”  

Pengendalian diri atau disiplin secara spiritual

yang berarti jalan atau cara dan sering dikaitkan dengan upaya mencari ridho Allah.

 

Thariqah sendiri adalah jalan spiritual yang ditempuh oleh seorang murid di bawah bimbingan seorang guru atau mursyid.

 

Tirakat 41 hari ada apa saja di dalam Pesantren

 

Di Dalam lingkungan Pesantren terdapat tradisi tirakat 41 hari yang dimana semua santri pasti akan melakukan tradisi ini, tradisi ini ada sejak zaman para Nabi.

 

Dan tradisi ini berkembang juga di dalam lingkungan Pesantren karena memiliki tujuan-tujuan tertentu.

 

Tujuan tirakat 41 hari

Tirakat 41 hari dalam pesantren biasanya dilakukan dengan tujuan-tujuan spiritual dan pembentukan karakter yang mendalam. Berikut adalah beberapa tujuan utama dari tirakat 41 hari:

 

  1. Mendekatkan diri kepada Allah

 

Tirakat dilakukan sebagai bentuk mujahadah (kesungguhan) untuk memperkuat hubungan spiritual dengan Allah melalui amalan seperti wirid, puasa, shalat malam, dan dzikir.

 

  1. Membersihkan hati dan jiwa

 

Selama 41 hari, santri berlatih mengendalikan hawa nafsu, menghindari kesenangan duniawi, dan fokus pada introspeksi diri, sehingga hati menjadi lebih tenang dan bersih.

 

  1. Melatih kesabaran dan ketekunan

 

Proses tirakat menuntut disiplin tinggi dan konsistensi. Ini menjadi latihan mental untuk menghadapi godaan dan kesulitan hidup dengan sabar dan teguh.

 

  1. Meningkatkan kedisiplinan dan tanggung jawab

 

Selama tirakat, ada aturan ketat yang harus dipatuhi. Ini membentuk pribadi yang bertanggung jawab dan terlatih dalam mengatur waktu serta menjaga komitmen.

 

  1. Membuka kemudahan dalam menuntut ilmu

 

Banyak yang meyakini bahwa tirakat 41 hari membuka jalan datangnya ilham, kemudahan memahami ilmu, serta keberkahan dalam hidup.

 

  1. Menguatkan niat dalam menuntut ilmu

 

Tirakat seringkali menjadi awal atau syarat untuk menuntut ilmu tingkat tinggi dalam dunia pesantren, sebagai bentuk kesiapan lahir dan batin.

 

Siapa saja yang dapat melakukan tirakat 41 hari

 

Tirakat ini tidak hanya dilakukan di lingkungan Pesantren namun juga dapat dilakukan diluar Pesantren, dan tidak hanya dilakukan oleh para Santri.

 

Tirakat yang dilakukan di dalam lingkungan Pesantren terdapat beberapa diantaranya,yakni:

  1. Puasa Daud

 

 Ini adalah jenis puasa sunnah yang sangat dianjurkan,bahkan disebut oleh Nabi Muhammad SAW, sebagai puasa yang paling dicintai oleh Allah.

 

  1. Riyadhoh 

 

Dalam pesantren, riyadhoh biasanya dilakukan di bawah bimbingan kiai atau mursyid yang akan memberikan amalan sesuai dengan kesiapan spiritual santri.

 

Tidak semua santri diberi amalan yang sama; bisa berbeda tergantung kebutuhan rohani masing-masing.

 

  1. Tirakatan santri baru

 

Tradisi ini tidak banyak dijumpai di lingkungan Pesantren hanya beberapa Pesantren yang menjadikan tirakatan ini sebagai tradisi dimana jika akan adanya Santri Baru.

 

Di Dalam tradisi ini semua Santri Baru tidak diperbolehkan menghubungi orang tua (telpon), dan tidak diperboleh orang tua untuk menjenguk (sambang) Putranya selama kurang lebih 41 hari.

 

Hal ini memicu adanya tujuan positif dijalankannya tradisi ini, yang dapat mempermudah Para Santri baru untuk menerima ilmu.

 

Mengapa Memilih Angka 40 Dalam Pelaksanaan Tirakat ?

Angka 40 memiliki kedudukan istimewa dalam 

Al-Qur’an dan Hadist, berulang kali muncul kisah penting para nabi dan amalan-amalan spiritual, berikut adalah beberapa penjelasan  kisah dan amalan spiritual :

 

  1. Nabi Musa AS

 

Pada zaman dahulu, di zaman Nabi Musa a.s

Sebelum penerimaan kitab taurat beliau bermunajat dengan beribadah, berpuasa, membersihkan diri, dan hati dari perkara duniawi. 

 

وَاِذْ وٰعَدْنَا مُوْسٰىٓ اَرْبَعِيْنَ لَيْلَةً ثُمَّ اتَّخَذْتُمُ الْعِجْلَ مِنْۢ بَعْدِهٖ وَاَنْتُمْ ظٰلِمُوْنَ ۝٥١

 

Artinya: “(Ingatlah) ketika Kami menjanjikan (petunjuk Taurat) kepada Musa (melalui munajat selama) empat puluh malam. Kemudian, kamu (Bani Israil) menjadikan (patung) anak sapi (sebagai sembahan) setelah (kepergian)-nya, dan kamu (menjadi) orang-orang zalim,” (Qs. Al Baqarah 2:51)

 

  1. Nabi Muhammad SAW

 

 Nabi Muhammad mendapatkan wahyu pertama di gua hirà dan  diutus menjadi Rasul di saat beliau berusia 40 tahun sebagai tanda puncak kedewasaan dan kesiapan beliau untuk menerima tugas Kenabian.

 

وَوَصَّيْنَا الْاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ اِحْسَانًاۗ حَمَلَتْهُ اُمُّهٗ كُرْهًا وَّوَضَعَتْهُ كُرْهًاۗ وَحَمْلُهٗ وَفِصٰلُهٗ ثَلٰثُوْنَ شَهْرًاۗ حَتّٰىٓ اِذَا بَلَغَ اَشُدَّهٗ وَبَلَغَ اَرْبَعِيْنَ سَنَةًۙ قَالَ رَبِّ اَوْزِعْنِيْٓ اَنْ اَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِيْٓ اَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلٰى وَالِدَيَّ وَاَنْ اَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضٰىهُ وَاَصْلِحْ لِيْ فِيْ ذُرِّيَّتِيْۗ اِنِّيْ تُبْتُ اِلَيْكَ وَاِنِّيْ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ ۝١٥

 

Artinya: “Kami wasiatkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandung sampai menyapihnya itu selama tiga puluh bulan. Sehingga, apabila telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun, dia (anak itu) berkata, “Wahai Tuhanku, berilah petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dapat beramal saleh yang Engkau ridai, dan berikanlah kesalehan kepadaku hingga kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada-Mu dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim,” (Qs. Al ahqaf 46:15)

 

  1. Bani Israil

 

Bani israil mengembara di padang pasir selama 40 tahun sebagai ujian, sebelum memasuki Tanah Perjanjian mereka mendapatkan hukuman dari Allah akibat ketidakpercayaan dan pemberontakan mereka sebelum keluar dari Mesir.

 

Sebagai persiapan untuk menerima ilmu yang berupa cahaya atau wahyu, selain itu juga dikatakan di dalam hadits bahwasanya Allah itu ganjil dan suka perkara yang ganjil.

 

قَالَ فَاِنَّهَا مُحَرَّمَةٌ عَلَيْهِمْ اَرْبَعِيْنَ سَنَةًۚ يَتِيْهُوْنَ فِى الْاَرْضِۗ فَلَا تَأْسَ عَلَى الْقَوْمِ الْفٰسِقِيْنَ ۝٢٦

 

Artinya: “(Allah) berfirman, “(Jika demikian,) sesungguhnya (negeri) itu terlarang buat mereka selama empat puluh tahun. (Selama itu) mereka akan mengembara kebingungan di bumi. Maka, janganlah engkau (Musa) bersedih atas (nasib) kaum yang fasik itu,”  (Qs. Al Maidah 5:26)

 

Proses perubahan penting kerap berlangsung dalam periode 40 hari atau 40 tahun, sebagai masa pembinaan dan penyucian diri, baik dalam konteks tubuh, jiwa maupun komunitas.

 

Dan secara simbolis, angka 40 juga menandai masa persiapan dan ujian sebelum datangnya pengampunan atau kemenangan, seperti kisah Nabi Nuh dan musim banjir yang melanda selama 40 hari dan malam.

 

Mengapa Ditambah Menjadi 41 Hari?

 

Adapun disini dijelaskan bahwasanya Allah 

menyukai angka ganjil (الوتر) dan hal ini ditegaskan dalam hadits shahih salah satu diantaranya yang paling terkenal adalah:

 

إن الله وتر يحب الوتر

Artinya: “Sesungguhnya Allah itu ganjil 

(Maha Esa) dan menyukai yang ganjil,” ( HR. Bukhari (no. 6410) dan Muslim (no.2677))

 

Maksud dari “Allah itu witr (الوتر)” adalah Allah Maha Esa, Tidak Ada Sekutu Bagi-Nya. Sifat Allah dalam menyukai bentuk yang ganjil 

 

Tercermin dalam banyak syariat, yaitu:

 

1.Rakaat Shalat Witir

2.Jumlah Takbir Pada Shalat Ied

3.Tuntunan Berdoa dengan menyebutkan permintaan dalam jumlah ganjil.

 

Allah itu Esa dan angka ganjil adalah bentuk Keesaan dan keistimewaan-Nya, dan dalam banyak ibadah angka ganjil digunakan sebagai bentuk taqarrub kepada Allah karena ganjil adalah kesukaan Allah.

 

Makanya tirakat 40 hari dijadikan 41 hari karna Allah menyukai hal-hal yang ganjil,

dan itu sebagai bentuk ikhtiar kita supaya 

dipermudah dalam mencari ilmu.

Juga dijelaskan dalam Al-Qur’an Surah (al-’ankabut ayat 69)

 

وَٱلَّذِينَ جَٰهَدُوا۟ فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَمَعَ ٱلْمُحْسِنِينَ

 

Artinya: Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.

 

Tirakat 41 hari di pesantren bukan hanya laku batin, namun latihan kesabaran dan penguatan niat, ia menjadi bekal sunyi yang menuntun para santri pada ketenangan hati dan kedekatan sejati.

 

Dan ketika tirakat selesai maka jiwa akan lebih siap dan lebih mudah dalam menerima ilmu, mari kita sebagai santri untuk menerapkan agar selalu dipermudah dalam mencari ilmu.

 

Wallahu A’lam

Oleh Fadiya  Fatimatuz zahro

Sign Up Newsletter

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.

Santri tidak hanya dibina untuk cerdas secara intelektual,
Learn More
tetapi juga matang secara emosional,
Learn More
dan yang paling utama, cerdas spiritualnya.
Learn more

Follow Ya

Terbaru