Muslimah Cerdas Adalah Investasi Peradaban

muslimah-cerdas.png

Share

JURNALISTIK ASY SYADZILI 4 – Setiap tanggal 21 April, bangsa Indonesia merayakan peringatan hari Kartini sebagai bentuk perjuangan dan perjuangan beliau dalam memperjuangkan hak-hak perempuan, terutama dalam hal pendidikan. 

 

Raden Ajeng Kartini bukan hanya simbol emansipasi, tetapi juga inspirasi tentang pentingnya ilmu dan pemikiran maju bagi perempuan di tengah keterbatasan zaman. 

 

R.A Kartini hidup di masa ketika akses pendidikan bagi perempuan sangat terbatas. Namun, melalui surat-suratnya yang penuh semangat dan pemikiran yang jauh melampaui zamannya, ia menyuarakan pentingnya ilmu pengetahuan bagi para perempuan.

 

R.A Kartini menganggap bahwa perempuan bukan hanya sekedar pelengkap, tapi penentu arah masa depan. 

 

Hari Kartini menjadi momen penting untuk merenungi peran perempuan dalam membangun bangsa. Seperti beberapa pahlawan perempuan yang telah berjuang dan berkontribusi bagi kemerdekaan dan perkembangan Indonesia. 

 

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

 

فَا سْتَجَا بَ لَهُمْ رَبُّهُمْ اَنِّيْ لَاۤ اُضِيْعُ عَمَلَ عَا مِلٍ مِّنْكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى   

 

Artinya: “Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman), “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki maupun perempuan, (karena) sebagian kamu adalah (keturunan) dari sebagian yang lain,” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 195)

 

Ayat ini menegaskan bahwa setiap amal, baik dari laki-laki maupun perempuan, akan dihargai oleh Allah. Ini menunjukkan bahwa perempuan memiliki peran penting dalam Islam dan diberi tempat yang mulia. Maka, menjadi muslimah bukan hanya soal kesetaraan, tapi juga tentang memikul tanggung jawab besar sebagai penopang peradaban.

 

Namun, perenungan ini bisa dibawa lebih dalam. Bukan hanya tentang kesetaraan, tapi tentang tanggung jawab besar yang diemban seorang muslimah sebagai penopang peradaban. 

 

Pendidikan Muslimah Sebagai Pilar Masa Depan

 

Sejak awal Islam telah memuliakan ilmu dan menjadikan menuntut ilmu sebagai kewajiban, baik laki-laki maupun perempuan. Islam juga tak membedakan atau membatasi penguasaan ilmu bagi perempuan. 

 

Pendidikan bagi perempuan bukan hanya masalah individu, tetapi juga merupakan investasi di masa depan yang lebih baik bagi masyarakat secara keseluruhan.

 

Dalam islam, pendidikan perempuan diyakini sebagai fondasi penting untuk membangun generasi penerus yang berkualitas.

 

Sejarah mencatat, banyak muslimah terdahulu yang turut berperan penting dalam membangun masyarakat. Seperti contohnya Khadijah binti Khuwalid, istri pertama Rasulullah SAW yang sukses dalam berbisnis dan mendukung dakwah Rasulullah SAW. 

 

Juga terdapat Aisyah binti Abu Bakar yang dikenal sebagai perawi hadis dan sumber ilmu. Kisah beliau membuktikan bahwa kecerdasan dan keilmuan muslimah bukan hanya kebanggaan, tetapi kebutuhan umat.

 

Seperti halnya R.A Kartini yang mendobrak sekat-sekat budaya demi cahaya ilmu dan menjunjung tinggi hak perempuan. Muslimah kini juga harus memiliki semangat yang sama, belajar bukan hanya untuk diri sendiri tapi untuk umat dan masa depan peradaban. 

Dari Rumah Menuju Peradaban

 

Untuk membangun peradaban, tak harus dimulai dari gedung besar atau kebijakan negara. Bisa juga dimulai dari ruang kecil yang dinamakan rumah. 

 

Di situlah seorang muslimah menjalani peran utamanya sebagai ibu, yang mana ia menjadi Madrasah pertama bagi anak-anaknya. Sebagai ibu, muslimah memiliki kesempatan emas untuk mendidik anak-anaknya, menanamkan nilai-nilai islam dan memberikan bekal ilmu baik bagi mereka. 

 

Nilai, akhlak, dan semangat hidup banyak terbentuk dari cara seorang ibu mendidik. Jadi, saat seorang muslimah mendidik anaknya dengan ilmu dan cinta, sebenarnya ia sedang menyiapkan generasi masa depan yang kuat.

 

Dalam membangun peradaban, seorang muslimah harus terus mengembangkan diri baik secara spiritual maupun intelektual. 

 

Sedangkan kekuatan utama seorang muslimah untuk membangun peradaban terletak pada akhlak yang dijalankan di kehidupan sehari-hari. Akhlak yang baik menjadi cerminan ajaran islam dan menjadi contoh pada orang lain. 

 

Disamping perannya dalam keluarga, seorang muslimah juga bisa mempunyai peran lainnya di masyarakat dan negara. Peran perempuan dibilang sangat strategis serta dominan dalam keduanya. 

 

Perempuan punya peran besar dalam membangun bangsa. Bukan cuma soal kesetaraan, tapi juga tentang tanggung jawab sebagai pendidik generasi dan penjaga nilai-nilai kehidupan. 

 

Seperti halnya R.A Kartini yang berjuang melalui pendidikan yang ia buka di Jepara. Kini kita bisa meneruskan perjuangannya dengan membekali diri dengan ilmu, meningkatkan akhlak, dan aktif berkontribusi dengan masyarakat. 

 

Dalam Islam, hal ini sudah jelas. Seorang muslimah bukan hanya bisa, tapi memang dituntut untuk berilmu, berakhlak, dan punya visi membangun kebaikan.

 

Zaman Boleh Maju, Nilai Harus Tetap Dijaga

 

Sekarang semuanya serba cepat dan terbuka. Tapi di tengah kemajuan ini, muslimah tetap punya peran penting untuk menjaga nilai dan akhlak. 

 

Bukan cuma untuk dirinya, tapi juga untuk lingkungan sekitarnya. Cara bicara, cara berpakaian, cara bergaul semua itu bisa jadi contoh dan inspirasi bagi orang lain.

 

Hari Kartini bisa jadi momen yang pas untuk menyadari bahwa perempuan punya peran besar dalam perubahan. Dan itu dimulai dari hal-hal sederhana dari rumah, dari lingkungan sekitar, dari diri sendiri. 

 

Dalam semangat Hari Kartini, kita tidak hanya mengenang perjuangan masa lalu, tapi juga menanam harapan baru. 

 

Para muslimah harus menjadi lentera di tengah zaman yang penuh ujian. Meningkatkan ilmu, memperkuat iman, dan memperluas pengaruh itulah misi muslimah dalam membangun umat. 

 

Muslimah yang terus belajar dan memperbaiki diri, akan jadi bagian penting dalam membangun peradaban yang lebih baik.

 

Karena sejatinya, muslimah cerdas bukan hanya kebanggaan keluarga mereka adalah investasi terbesar bagi lahirnya peradaban yang beradab.

 

Halal Bihalal adalah bentuk silaturahmi dan saling memaafkan yang pada umumnya dilaksanakan setelah Idul Fitri. Halal bihalal dilakukan di suatu tempat bersama sekumpulan orang.

 

Tradisi halal bihalal diadakan bertujuan untuk mempererat tali persaudaraan, keharmonisan, serta membersihkan hati dari segala bentuk dendam atau kesalahpahaman.

 

Tradisi ini tak dikenal di negara muslim manapun, karena tradisi ini tercetus di negara Indonesia dan menjadi tradisi khas Indonesia.

 

Wallahu a’lam

Oleh Amania Akmel Syahqila

Sign Up Newsletter

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.

Santri tidak hanya dibina untuk cerdas secara intelektual,
Learn More
tetapi juga matang secara emosional,
Learn More
dan yang paling utama, cerdas spiritualnya.
Learn more

Follow Ya

Terbaru