Halal Bihalal hanya ada di indonesia, Tidak ada di negara muslim lain? Simak Penjelasannya!

halalbihalal.png

Share

JURNALISTIK ASY SYADZILI 4 – Halal Bihalal adalah bentuk silaturahmi dan saling memaafkan yang pada umumnya dilaksanakan setelah Idul Fitri. Halal bihalal dilakukan di suatu tempat bersama sekumpulan orang.

 

Tradisi halal bihalal diadakan bertujuan untuk mempererat tali persaudaraan, keharmonisan, serta membersihkan hati dari segala bentuk dendam atau kesalahpahaman.

 

Tradisi ini tak dikenal di negara muslim manapun, karena tradisi ini tercetus di negara Indonesia dan menjadi tradisi khas Indonesia.

Makna halal bihalal

 

Dilansir dari situs Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah istilah halal bihalal seperti dari kata bahasa arab. Nyatanya, istilah ini hanya dikenal di Indonesia dan tidak ada di negara Arab.

 

Istilah halal bihalal tidak dapat diartikan secara harfiah dan satu persatu antara halal, bi, dan halal.

 

Kata halal berasal dari kata halla yang dalam bahasa arab memiliki tiga makna. Yakni halla al-habl (benang kusut terurai kembali), halla al-maa’ (air keruh diendapkan), dan halla as-syai (halal sesuatu).

 

Dapat diambil kesimpulan dari tiga makna tersebut, bahwa kekusutan, kekeruhan, dan kesalahan yang selama ini dilakukan pada orang lain dapat dihalalkan kembali. Artinya, semua hal itu akan kembali pada keadaan semula setelah saling memaafkan.

 

Sejarah halal Bihalal

 

Tradisi serupa halal bihalal diyakini sudah ada sejak masa Mangkunegara I atau Pangeran Sambernyawa. Beliau mengadakan pertemuan serentak di balai istana antara raja, punggawa, dan prajurit.

 

Pada pertemuan ini, diadakanlah tradisi sungkem dan saling memaafkan. Semua punggawa dan prajurit sungkem pada raja dan permaisuri.

 

Apa yang dilakukan oleh Pangeran Sambernyawa itu kemudian ditiru oleh masyarakat muslim Indonesia dan dipopulerkan dengan istilah halal bihalal.

 

Asal usul Istilah Halal Bihalal

 

Ada sumber yang mengatakan, jika istilah halal bihalal bermula dari pedagang martabak India di taman Sriwedari Solo sekitar tahun 1935-1936. Yang pada masa itu, masyarakat baru mengenal martabak di Indonesia.

 

Pedagang martabak ini dibantu dengan pembantu pribuminya dan mempromosikan dagangannya dengan kata “Martabak Malabar, halal bin halal, halal bin halal”.

 

Masyarakat kemudian menggunakan istilah ini untuk berkumpul di taman Sriwedari di hari Lebaran untuk saling memaafkan.

 

Ada juga versi yang menyebutkan bahwa istilah halal bihalal di populerkan oleh KH Wahab Chasbullah, salah satu pendiri organisasi Nahdlatul Ulama’.

 

Tepatnya ketika beliau dipanggil oleh Ir. Soekarno pada tahun 1948 guna meminta pendapat dan saran dengan harapan dapat mengatasi situasi politik yang tak sehat kala itu.

 

KH Wahab Chasbullah menyarankan untuk mengadakan silaturrahmi, namun Ir. Soekarno merasa biasa dengan istilah itu. Lalu KH Wahab Chasbullah menjelaskan suatu istilah dimana orang yang saling menyalahkan adalah perbuatan dosa dengan hukum haram, dan harus di halalkan dengan cara bermaaf-maafan.

 

“Itu gampang,” kata Kiai Wahab. “Begini, para elit politik tidak mau bersatu, itu karena mereka saling menyalahkan. Saling menyalahkan itu kan dosa. Dosa itu haram. Supaya mereka tidak punya dosa (haram), maka harus dihalalkan. Mereka harus duduk dalam satu meja untuk saling memaafkan, saling menghalalkan. Sehingga silaturahim nanti kita pakai istilah halal bihalal,” jelas Kiai Wahab Chasbullah seperti riwayat yang diceritakan KH Masdar Farid Mas’udi.

 

Seiring berkembangnya zaman, tradisi halal bihalal tetap menjadi bagian dari perayaan Hari Raya Idul Fitri di Indonesia sampai sekarang.

 

Tradisi ini juga bukan hanya sekedar bentuk ibadah keagamaan, tetapi juga bentuk kemanusiaan dan kebangsaan.

 

Wallahu a’lam

Oleh Amania Akmel Syahqila

Sign Up Newsletter

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.

Santri tidak hanya dibina untuk cerdas secara intelektual,
Learn More
tetapi juga matang secara emosional,
Learn More
dan yang paling utama, cerdas spiritualnya.
Learn more

Follow Ya

Terbaru