JURNALISTIK ASY SYADZILI 4 – Tradisi pesantren adalah sesuatu yang dibiasakan dan diterapkan dari generasi ke generasi, yang menjadikan ciri khas dari suatu pesantren.
Dalam pesantren, tidak hanya melatih kecerdasan akal, namun emosi dan spiritual juga termasuk dalam pengajarannya.
Para santri diajak untuk berpikir kritis, mengontrol emosi dengan baik, dan memperkuat iman melalui ibadah. Sehingga terbentuklah pribadi yang cerdas, tenang, dan religius.
- Kecerdasaan Intelektual Santri
Tradisi di pesantren mencakup beberapa kegiatan yang sudah banyak diterapkan sejak zaman dahulu. Hal itulah yang dapat meningkatkan kecerdasan santri.
Pesantren mempunyai cara unik dalam meningkatkan kecerdasaan intelektual santri. Selain fokus pada agama, mereka juga fokus untuk melatih santri agar terampil dalam berpikir.
Berikut cara pesantren dalam mendukung pengembangan intelektual santri:
- Kajian Kitab Kuning
Tradisi pesantren membantu santri mengasah kecerdasan mereka. Salah satu caranya yaitu melalui kajian kitab kuning atau sorogan yang melatih mereka untuk berpikir kritis dan mendalam.
Bidang ilmu yang terdapat pada kitab kuning bermacam-macam, seperti tafsir, hadits, fiqih, mawaris dan lain sebagainya. Bidang lain yang dipelajari di dalamnya ialah tata bahasa arab, atau kerap disebut ilmu nahwu.
Mereka diajarkan untuk memahami dengan mendalam teks-teks dalam kitab kuning, membandingkan pendapat ulama’ lalu mencernanya.
Kajian kitab kuning bukan hanya sebagai ilmu pengetahuan, tetapi juga mewakili tradisi keilmuan islam yang telah berlangsung selama berabad-abad.
Selain belajar memahami dan menganalisis teks-teks klasik, para santri juga menjalani tradisi lain yang tak kalah penting, yaitu menghafal.
- Menghafal
Selain kajian kitab kuning, tradisi yang lazim digunakan dalam metode pembelajaran di pesantren ialah menghafal. Karena, hafalan yang kuat juga bisa meningkatkan pemahaman dan penghayatan.
Seperti contohnya seorang santri yang sudah menuntaskan 30 juz. Baginya, hafalan bukan hanya tentang mengingat dan memahami, tetapi juga melatih kesabaran dan membuat mereka menjadi lebih fokus serta pantang menyerah.
Menghafal memerlukan kegiatan membaca yang berulang-ulang untuk meningkatkan daya ingat pada otak, sehingga menjadikannya lebih terlatih dan terasah.
Maka dari itu, kegiatan menghafal tak mungkin tertinggal dalam metode pembelajaran pesantren, dan menjadi tradisi dari zaman ke zaman.
- Bahtsul Masail
Tradisi selanjutnya adalah bahtsul masail, forum diskusi yang di dalamnya membahas dan memecahkan masalah-masalah keagamaan, sosial, politik, ekonomi, serta budaya yang terjadi di masyarakat.
Dalam bahtsul masail, santri dilatih untuk terampil dalam mengolah kata, membiasakan agar berpikir kritis, dan dituntut cepat dalam diskusi suatu permasalahan.
Diskusi termasuk hal yang sangat penting bagi umat islam, seperti pada firman Allah SWT pada surah Asy-Syura ayat 38 berikut
وَالَّذِيْنَ اسْتَجَابُوْا لِرَبِّهِمْ وَاَقَامُوا الصَّلٰوةَۖ وَاَمْرُهُمْ شُوْرٰى بَيْنَهُمْۖ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَۚ
Artinya: “(juga lebih baik dan lebih kekal bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhan dan melaksanakan shalat, sedangkan urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah di antara mereka. Mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.”
Bahtsul masail membantu santri agar semakin terampil dalam membaca, menganalisis, dan menerapkan hukum islam di masa kini.
Selain itu, bahtsul masail juga melatih emosional santri saat berdiskusi, menghargai pendapat orang lain, dan tetap tenang saat berbeda pendapat. Hal ini yang membantu mereka lebih bijak dalam mengelola emosi.
- Kecerdasan Emosional di Lingkungan Pesantren
Hanya mengandalkan kecerdasan intelektual, tak cukup menjamin kesuksesan seorang santri. Menyeimbangkan kecerdasan adalah point penting dalam kehidupan, salah satunya pada emosional seseorang.
Kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk memahami dan mengontrol emosi diri dan orang lain.
Keseimbangan emosional sangat penting bagi santri. Selain belajar ilmu, mereka juga belajar mengelola perasaan dan cara bergaul dengan baik untuk menciptakan lingkungan yang harmonis di pesantren.
Berikut beberapa nilai yang dapat meningkatkan keseimbangan emosional mereka:
- Nilai Kebersamaan
Hidup bersama di pesantren mengajarkan mereka untuk memahami, menghargai, saling mendukung, dan kerjasama dalam menyelesaikan masalah.
Seperti halnya ro’an (kegiatan bersih-bersih secara gotong royong) yang mengajarkan santri membersihkan semua wilayah bersama tanpa membeda-bedakan wilayah tersendiri.
Santri juga dilatih untuk sabar dalam menghadapi sikap teman yang berbeda pendapat, memaaan, tidak gegabah, dan mengontrol amarah.
Sikap yang bijak akan membawa suasana baik di lingkungan pesantren, juga akan berdampak baik saat kembali di masyarakat nanti.
- Disiplin dan Adab
Termasuk dalam cara mendidik santri, disiplin dan adab sangat dibutuhkan untuk menumbuhkan keseimbangan emosional santri.
Adab adalah norma atau aturan yang berkaitan dengan sopan santun, keramahan, dan kehalusan budi pekerti. Sedangkan, Disiplin adalah sikap dan perasaan taat serta patuh terhadap nilai-nilai yang dipercaya sebagai tanggung jawab.
Adab sangatlah penting dimiliki oleh setiap orang, karena adab berperan sebagai tolak ukur akhlak seseorang. Begitu juga dengan disiplin.
Dari sikap disiplin itulah muncul sifat cekatan dan tak mau membuang waktu untuk hal yang tak perlu. Seperti pada firman Allah SWT pada surah Al-Insyirah ayat 7, yang berbunyi:
َفَاِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْۙ
Artinya : “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.“
Disiplin melatih ketepatan waktu dan efisiensi, sementara adab membentuk akhlak mulia dalam menghormat guru, sesama, dan lingkungan. Dengan keduanya, santri menjadi pribadi tangguh, berakhlak, dan siap menghadapi tantangan zaman.
- Empati dan Peduli
Empati dan peduli adalah perasaan yang bisa membuat seseorang peduli dan memberikan kenyamanan pada orang yang membutuhkan.
Rasa empati bisa membantu santri agar lebih mudah bergaul atau komunikasi dengan orang lain. Sedangkan peduli adalah rasa yang mendorong santri untuk peduli dengan keadaan sekitar.
Contohnya membantu teman yang kesulitan memahami pelajaran di pesantren. Membantunya menjelaskan kembali sampai faham dan secara perlahan dan sukarela.
- Mengasah Spiritual dalam Kehidupan Pesantren
Kecerdasan spiritual sangat penting bagi kehidupan manusia, terutama bagi seorang santri. Agar mereka bisa menjalani hidup dengan nilai-nilai yang baik dan lebih bijak dalam mengambil keputusan, serta lebih dekat kepada Allah SWT.
Ibadah sehari-hari di pesantren mendukung santri mengembangkan kecerdasan spiritualnya. Seperti: dzikir bersama, pengajian rutin, Maulid diba’, Manaqib, dan ibadah lain yang masih banyak lagi.
Berikut beberapa manfaat dan pentingnya memiliki kecerdasan spiritual, di antaranya:
- Memiliki Kesadaran Diri
Seorang yang memiliki kecerdasan spiritual, akan lebih mudah mengetahui apa yang menjadi nilai di hidupnya, apa yang dia yakini, dan apa yang bisa memotivasinya.
- Bersikap Lebih Tenang
Saat ditimpa masalah, mereka akan lebih mudah menghadapi dengan prinsip dan keyakinan pada Allah SWT. Dengan lebih tenang, tanpa berfikir buruk dan berdampak pada orang sekitar.
Saat susah menghafal, dia akan lebih sabar menghadapi, bisa berfikir jauh dan tidak mudah menyalahkan diri sendiri.
- Bertawakal
Menyerahkan semua urusan kepada Allah SWT setelah berusaha dan doa sekuat tenaga adalah pengertian dari tawakal. Seperti pada firman Allah SWT dalam surah Hud ayat 123, berbunyi:
وَلِلّٰهِ غَيْبُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاِلَيْهِ يُرْجَعُ الْاَمْرُ كُلُّهٗ فَاعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِۗ وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُوْنَ
Artinya: “Dan kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit dan di bumi dan kepada-Nya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya, maka sembahlah Dia, dan bertawakkallah kepada-Nya. Dan sekali-kali Tuhanmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan.”
Banyak contoh dari negara-negara maju yang dikenal memiliki tingkat kecerdasan diatas rata-rata, namun faktanya memiliki tingkat bunuh diri yang tinggi. Hal itu disebabkan kurangnya keseimbangan 3 kecerdasan, terutama pada spiritualnya.
Maka dari itu, keseimbangan sangat dibutuhkan dalam kehidupan setiap manusia. Terutama bertawakal kepada sang Pencipta.
- Dampak dari Imbangnya Tiga Kecerdasan
Hubungan antara akal, emosi, dan spiritual bersifat saling melengkapi untuk membentuk karakter yang seimbang, berpikir, merasa, bertindak, dan memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi.
Ketiganya adalah kunci untuk menghadapi tantangan hidup dengan bijak, tenang, dan berlandaskan nilai-nilai luhur.
Contoh di pesantren ialah, saat bahtsul masail. Santri berpikir dengan kritis (aktual), mengendalikan emosi saat berbeda pendapat (emosional), dan niat ikhlas untuk berdakwah dan menjaga ukhuwah Islamiyah (spiritual).
Untuk mengembangkan tiga kecerdasan tersebut, harus ada dukungan dan kerjasama dari para ustadz atau ustadzah yang mengajar di pesantren, juga dukungan dari orang tua pada santri yang akan menciptakan individu yang baik dan menjadikan lingkungan yang harmonis.
Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan terciptanya generasi penerus ulama’ yang mampu menghadapi tantangan masa depan.
Lahirnya santri yang memiliki keseimbangan tiga kecerdasan, akan mendukung berkembangnya bangsa, serta tetap mewariskan tradisi-tradisi di pesantren sebagai lembaga pendidikan tertua di Indonesia.
Wallahu a’lam
Oleh Amania Akmel Syahqila




