Tanah Air dan Nasionalisme Dalam Islam: Menurut Perspektif Al-Qur’an dan Hadits

INDONESIA.png

Share

JURNALISTIK ASY SYADZILI 4 – Wawasan kebangsaan bagi rakyat Indonesia, utamanya umat islam, memiliki peran penting yang strategis dalam menjaga ketahanan bangsa dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. 

 

Nasionalisme adalah kesadaran keanggotaan dalam suatu bangsa yang secara potensial atau aktual bersama-sama berusaha mencapai, mempertahankan, dan mengabdikan identitas, integrasi, kemakmuran dan kekuatan dengan semangat kebangsaan. 

 

Memperhatikan kepentingan seluruh warga bangsa tanpa terkecuali adalah bagian integral dari konsep Pemerintahan Madinah yang dibangun oleh Nabi Muhammad SAW. Dengan demikian, paham Nasionalisme yang dimaksud tidak bertentangan dengan islam, justru menjadi bagian yang tidak bisa terpisahkan dalam konsep ajaran islam secara keseluruhan. 

 

Sebagai agama yang sempurna, islam juga telah memberikan intisari dari nasionalisme. Intisari dari nasionalisme adalah rasa kecintaan pada tanah air. 

 

Nasionalisme berasal dari kata nation yang dipadankan dengan bangsa, yang memiliki pengertian suatu masyarakat yang merupakan suatu persekutuan hidup yang berdiri sendiri yang masing-masing dari mereka memiliki kesatuan ras, bahasa, agama, dan adat istiadat. 

 

Mengaitkan islam dengan kebangsaan dan nasionalisme dapat dijelaskan. Pertama, islam dan nasionalisme mempunyai hubungan positif, yang mana islam memiliki pengalaman panjang dan bahkan pioneer terbentuknya nasionalisme yang melahirkan negara bangsa. 

 

Kedua, menurut Mansur, nasionalisme bertentangan dengan islam. Sebagai agama Universal, islam tidak membatasi peruntukan bagi wilayah geografis dan etnis tertentu. 

 

Dan ada pepatah mengatakan “Cinta tanah air sebagian dari iman”, maka benarlah jika islam tidak bertanah air, tetapi kaum Muslimnya-lah yang bertanah air. 

 

Menurut Perspektif Al-Qur’an

 

Ada yang menyebut, jika tidak ada landasan atau dalil mengenai nasionalisme dalam islam. Secara sederhana bisa kita samakan antara nasionalisme dan cinta tanah air, jika nasionalisme itu cinta tanah air, maka sesungguhnya dalil di dalam Al-Qur’an begitu banyak, diantaranya ada pada Qs. Al-Anfal ayat 30:

 

وَإِذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِيُثْبِتُوكَ أَوْ يَقْتُلُوكَ أَوْ يُخْرِجُوكَ ۚ وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ ۖ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ

 

Artinya: “Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya,“

 

Al-Qur’an mengibaratkan tanah air adalah suatu hal yang sangat berharga, sampai-sampai pengusiran dari tanah air disandingkan pembunuhan atas nyawa atau bahkan lebih berat dan kejam. 

 

Dalam sebuah ayat, Syaikh ibnu Asyur dalam Tafsirnya al-Tahrir wa al-Tanwir menyatakan bahwa kaum muslimin disyariatkan untuk berdo’a pada tanah airnya, walaupun isi dari ayat itu hanyalah sebuah doa dari Nabi Ibrahim a.s untuk kota Mekkah, ayat tersebut berbunyi: 

 

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا بَلَدًا آمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُم بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ قَالَ وَمَن كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُ قَلِيلًا ثُمَّ أَضْطَرُّهُ إِلَىٰ عَذَابِ النَّارِ ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

 

Artinya: “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman: “Dan kepada orang yang kafirpun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali,” (Qs. Al-Baqarah: 126) 

 

Namun, Ibnu Asyur mengatakan jika do’a ini juga diucapkan oleh para Nabi atas Negaranya masing-masing. Setiap Nabi berdo’a agar terwujud keadilan, kebanggaan, serta kesejahteraan, artinya para Nabi juga memiliki nasionalisme pada bangsa dan tanah airnya. 

 

Ketiga hal itulah yang menjadi hal paling penting untuk membangun negara, mengatur kekayaan dan sumber daya tiap negara. 

 

Menurut Perspektif Hadits

 

Para ahli sejarah dan hadist menggambarkan jika Nabi adalah Muhammad SAW adalah sosok yang sangat mencintai tanah airnya. Seperti ungkapan dari Imam Adz-Zahabi, salah salah satu ahli sejarah dan sirah nabawiyah yang menyebutkan beberapa sifat nabi. 

 

Beliau berkata “Rasulullah adalah sosok yang mencintai Aisyah, mencintai ayah Aisyah, mencintai Usamah, mencintai kedua ujungnya, mencintai manis-manis dan madu, mencintaimu, mencintai tanah airnya, dan mencintai para sahabat Anshar.”

 

Dalam riwayat lain terdapat suatu slogan yang populer, yakni:

 

حب الوطن من الإيمان

 

Artinya: “Mencintai tanah air sebagian dari iman.”

 

Cinta tanah air menjadi sebagian dari iman apabila didasari dan diekspresikan dengan sikap patriotisme serta berbuat kebaikan demi kemakmuran dan kesejahteraan bangsabangsa dan tanah airnya. 

 

Dalam penerapannya, semangat nasionalisme mampu menciptakan dialog kehidupan yang rukun dan damai. Bahkan di masa sekarang yang diperlukan untuk memperkuat sendi-sendi kenegaraan dari paham radikalisme, ekstrimisme, dan semacamnya yang dapat merusak kebhinekaan bangsa ini. 

 

Pada intinya, sikap nasionalisme tetap ternilai dalam islam, tak ada ruginya mempelajari wawasan kebangsaan. Jika dibilang menyimpang dari agama, maka beberapa dalil diatas yang memperjelasnya, Sebab sikap nasionalisme sangat diperlukan untuk menjaga keutuhan kerangka bangsa kita, Indonesia. 

 

Wallahu a’lam

Oleh Amania Akmel Sahqila

Sign Up Newsletter

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.

Santri tidak hanya dibina untuk cerdas secara intelektual,
Learn More
tetapi juga matang secara emosional,
Learn More
dan yang paling utama, cerdas spiritualnya.
Learn more

Follow Ya

Terbaru