JURNALISTIK ASY SYADZILI 4 – Mukjizat adalah kejadian atau peristiwa yang luar biasa yang menyalahi kebiasaan alamiah, dan di lakukan oleh Allah SWT kepada hamba-Nya yang terpilih sebagai tanda kebenaran risalah mereka.
Mukjizat adalah bukti risalah para nabi, bukan sihir ataupun tipuan.
Sebagai nabi akhir zaman, Nabi Muhammad juga dikaruniai mukjizat yang tak kalah luar biasa dengan nabi-nabi lainnya. Yuk kita bahas beberapa mukjizat nabi Muhammad SAW yang sangat luar biasa.
1. Al-Qur’an Sebagai Mukjizat Utama
Setiap nabi yang diutus Allah SWT akan diberikan mukjizat. Menariknya, mukjizat para nabi sebelumnya bersifat visual atau bisa dilihat langsung oleh mata.
Misalnya, Nabi Isa yang bisa menghidupkan orang mati, dan kaumnya bisa melihat kejadian luar biasa itu dengan mata kepala mereka sendiri.
Berbeda dengan Nabi Muhammad SAW. Mukjizat utamanya adalah Al-Qur’an, dan mukjizat ini bersifat auditory atau didengar.
Pada zaman Rasulullah, belum ada Al-Qur’an dalam bentuk buku seperti sekarang. Ayat-ayat Al-Qur’an disampaikan secara lisan.
Rasul membacakannya, para sahabat mendengarkannya, lalu mereka menghafalkannya dan menyampaikan kembali kepada orang lain dengan cara yang sama dengan mendengar dan menghafal.
Jadi, penyebaran wahyu saat itu tidak melibatkan penglihatan, tapi lebih pada pendengaran.
Inilah keunikan mukjizat Nabi Muhammad. Mukjizat yang bersifat visual, seperti menghidupkan orang mati, hanya terjadi sekali. Setelah itu, orang yang tidak menyaksikannya langsung tidak bisa membuktikannya.
Sedangkan Al-Qur’an sebagai mukjizat Nabi Muhammad SAW ini akan tetap terpelihara. Allah SWT berfirman:
اِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَاِنَّا لَهٗ لَحٰفِظُوْنَ
Artinya: “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya,“ (QS. Al-Hijr : 9)
Karena Al-Qur’an tetap bisa dinikmati dan dikaji sampai sekarang. Bahkan, keindahan dan kehebatan gramatikal (tata bahasa) Al-Qur’an menjadi bukti mukjizatnya yang abadi.
Dengan kata lain, Al-Qur’an adalah satu-satunya mukjizat yang bisa terus dirasakan dan dibuktikan sepanjang zaman, tanpa batas waktu.
2. Isra’ Mi’raj
Isra Mi’raj adalah peristiwa penting dalam Islam yang menggambarkan perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram (Mekkah) ke Masjidil Aqsa (Yerusalem) dan kemudian naik ke langit ketujuh (Sidratul Muntaha) dalam satu malam.
Kehebatan Nabi Muhammad SAW saat Isra Mi’raj sangat luar biasa, di mana beliau mendapatkan perintah salat lima waktu, bertemu dengan para nabi, melihat surga dan neraka, dan bahkan “berjumpa” dengan Allah SWT. .
Hal ini diabadikan dalam Al-Qur’an surah Al-isra’ ayat 1 yang berbunyi:
سُبْحَٰنَ ٱلَّذِىٓ أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِۦ لَيْلًا مِّنَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ إِلَى ٱلْمَسْجِدِ ٱلْأَقْصَا ٱلَّذِى بَٰرَكْنَا حَوْلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنْ ءَايَٰتِنَآ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ
Artinya: “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah kami berkahi sekelilingnya agar kamu perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya Dia adalah Yang Maha Mendengar selagi Maha Mengetahui.”
Perjalanan ini memiliki makna mendalam bagi umat Islam, termasuk penerimaan perintah salat lima waktu.
3. Bulan Terbelah Menjadi Dua
Diabadikan dalam surah Al-Qamar ayat 1-2 yang berbunyi:
اِقْتَـرَبَتِ السَّا عَةُ وَا نْشَقَّ الْقَمَرُ وَاِ نْ يَّرَوْا اٰيَةً يُّعْرِضُوْا وَيَقُوْلُوْا سِحْرٌ مُّسْتَمِرٌّ
Artinya: “Saat (hari Kiamat) semakin dekat, bulan pun terbelah. Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat suatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata, (Ini adalah) sihir yang terus-menerus.”
Mukjizat ini terjadi ketika kaum Quraisy di Makkah meminta Nabi Muhammad SAW untuk memperlihatkan tanda kenabiannya, dan atas izin Allah bulan terbelah menjadi dua.
Keterangan tersebut juga didasarkan dari salah satu riwayat hadits yang dikisahkan Anas bin Malik RA. Ia berkata,
أَنَّ أَهْلَ مَكَّةَ سَأَلُوا رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم أَنْ يُرِيَهُمْ آيَةً، فَأَرَاهُمُ انْشِقَاقَ الْقَمَرِ فَأَرَاهُمُ الْقَمَرَ شِقَّتَيْنِ حَتَّى رَأَوْا حِرَاءً بَيْنَهُمَا
Artinya: “Sesungguhnya, ahli Makkah pernah meminta kepada Rasulullah SAW supaya memperlihatkan satu tanda bukti kepada mereka. Kemudian, beliau memperlihatkan bulan yang terbelah dua hingga Gunung Hira dapat merela lihat di antara kedua belahannya,” (HR Bukhari dan Muslim).
4. Mengalirnya Air Dari Sela-Sela Jari Rasulullah
Imam al-Baihaqi menceritakan peristiwa memancarnya air dalam jumlah sangat banyak dari tangan beliau pada saat momen perdamaian Hudaibiyah.
Cerita ini menggambarkan bagaimana Nabi Muhammad SAW memasukkan tangannya ke dalam wadah berisi sedikit air, lalu air memancar dari sela-sela jarinya seperti sumber mata air, cukup untuk ratusan orang berwudhu.
Tatkala lebih dari 1000 orang kaum Muslimin berbaiat setia kepada Rasulullah SAW. Peristiwa ini diriwayatkan oleh sahabat Jabir. Selengkapnya sebagai berikut:
سَمِعْتُ سَالِمَ بْنَ أَبِي الْجَعْدِ، قَالَ: قُلْتُ لِجَابِرٍ: كَمْ كُنْتُمْ يَوْمَ الشَّجَرَةِ؟ قَالَ: كُنَّا أَلْفًا وَخَمْسَمِائَةٍ، وَذَكَرَ عَطَشًا أَصَابَهُمْ قَالَ: فَأُتِيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَاءٍ فِي تَوْرٍ فَوَضَعَ يَدَهُ فِيهُ فَجَعَلَ الْمَاءُ يَخْرُجُ مِنْ بَيْنِ أَصَابِعِهِ كَأَنَّهُ الْعُيُونُ، قَالَ: فَشَرِبْنَا وَوَسِعَنَا وَكَفَانَا قَالَ: قُلْتُ: كَمْ كَنْتُمْ؟ قَالَ لَوْ كُنَّا مِائَةَ أَلْفٍ كَفَانَا، كُنَّا أَلْفًا وَخَمْسَمِائَةٍ
Artinya: “Hushain bin Abdirrahman berkata, Aku mendengar Salim bin Abi Al-Ja’d berkata: Aku bertanya kepada Jabir, kalian ada berapa orang di hari Syajarah (Hudaibiyah)? Dia berkata kami berjumlah 1.500 orang. Jabir kemudian bercerita tentang rasa haus yang menimpa mereka semua. Kemudian Rasulullah ﷺ dibawakan air dalam suatu wadah lalu beliau meletakkan tangannya di dalam wadah itu lalu air memancar dari antara jari-jarinya seolah sumber mata air. Jabir berkata: Kemudian kami meminumnya dan itu mencukupi kami semua. Aku bertanya pada Jabir, kalian ada berapa orang? Ia menjawab seandainya kami 100.000 orang, maka akan cukup bagi kami semua tetapi saat itu kami berjumlah 1.500 orang” (al-Baihaqi, al-I’tiqâd, 272-273).
Diceritakan juga oleh Ibnu Abbas juga Anas bin Malik, bahwa kejadian ini tak terjadi hanya sekali.
5. Kesucian Wajah Nabi Muhammad di Era Digital
Habib Ahmad bin Novel bin Jindan menjelaskan bahwa kesucian dan kemuliaan Nabi Muhammad saw dapat terlihat hanya dari wajah beliau, bahkan sebelum beliau berbicara atau bertindak. Cahaya dan keagungan wajah Nabi sudah cukup menunjukkan bahwa beliau adalah utusan Allah.
Dalam ceramahnya, Habib Ahmad menceritakan kisah Abdullah bin Salam, seorang ulama Yahudi di Madinah yang langsung masuk Islam hanya dengan melihat wajah Nabi. Ia berkata, “Wajah ini bukan wajah pendusta, ini wajah seorang Nabi.”
Ini menjadi bukti bahwa wajah Nabi membawa berkah dan pertolongan dari Allah. Meskipun para penentang Nabi tidak mau beriman, mereka tetap tidak bisa memungkiri kesucian dan keistimewaan beliau.
Lalu mengapa kesadaran akan kesucian wajah nabi baru dirasakan lebih dalam di zaman ini?
Jawabannya, karena semakin jauh kita dari zaman kenabian, semakin dalam kerinduan umat terhadap Rasulullah SAW. Teknologi kini membuka banyak ruang informasi, tetapi juga memunculkan banyak ancaman berupa penghinaan terhadap agama dan tokoh suci.
Ketika dunia modern meremehkan nilai adab dan memperjualbelikan simbol agama, maka umat Islam mulai menyadari betapa bernilainya warisan spiritual yang bersumber dari Nabi, bahkan hanya dari wajah beliau.
Mengapa Wajah Nabi Muhammad Tidak Boleh Dilukis?
Di tengah dunia yang semakin terbuka dan bebas, kita menyaksikan ironi besar. Di satu sisi, informasi tentang Nabi Muhammad SAW lebih mudah diakses, tetapi di sisi lain, penghinaan terhadap beliau juga semakin mudah disebarluaskan.
Inilah konsekuensi dari zaman digital di mana nilai suci bisa dipermainkan oleh tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab.
Beberapa tahun terakhir, kita menyaksikan berbagai kasus penistaan agama. Baik melalui karikatur, film, meme, hingga konten media sosial yang sengaja memprovokasi perasaan umat Islam.
Islam sebenarnya telah mengantisipasi bahaya ini sejak awal, salah satunya melalui larangan menggambarkan Nabi secara visual.
Larangan ini bukan karena wajah Nabi tidak indah untuk dilukis, tetapi karena wajah beliau terlalu suci untuk dipermainkan oleh tangan manusia. Allah SWT menjaga agar tidak ada celah yang bisa menjadi jalan penghinaan atau pemujaan berlebihan.
Pada suatu hadits disebutkan:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِي اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الَّذِينَ يَصْنَعُونَ هَذِهِ الصُّوَرَ يُعَذَّبُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يُقَالُ لَهُمْ أَحْيُوا مَا خَلَقْتُمْ
Artinya: “Dari Abdullâh bin Umar semoga Allâh meridhai keduanya, dia bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya orang-orang yang membuat shurah-shurah ini (patung/gambar makhluk bernyawa) akan disiksa pada hari kiamat. Akan dikatakan kepada mereka: “Hidupkan apa yang telah kamu buat,” (HR. Al-Bukhari no: 5951; Muslim no: 2108)
Hadis ini memperlihatkan bahwa menggambar makhluk bernyawa secara sembarangan, terlebih lagi Nabi, adalah tindakan yang sangat dilarang. Jika larangan ini dipahami dan ditaati oleh semua, maka tidak akan ada ruang untuk menjadikan gambar Nabi sebagai bahan penodaan atau olok-olok.
Kesucian yang Harus Dijaga, Bukan Diperjualbelikan
Kasus-kasus penistaan yang terjadi di media barat maupun digital lokal telah membuka mata umat. Banyak dari mereka yang sebelumnya tidak terlalu peduli, kini justru tumbuh rasa cinta dan pembelaan terhadap Nabi Muhammad SAW.
Namun cinta ini jangan hanya berhenti pada kemarahan sesaat, melainkan harus dibawa ke dalam bentuk penguatan iman, pendidikan adab, dan keteladanan dalam bersikap.
Kesucian wajah Nabi adalah cermin dari kesucian risalahnya. Maka tugas kita hari ini adalah menjaga cermin itu tetap bersih bukan dengan menggambarnya, tetapi dengan menghidupkan akhlaknya, menyebarkan ajarannya, dan membela kehormatannya secara bijak dan syar’i.
Tanggapan Umat yang Bijak
Setiap penghinaan terhadap Nabi SAW tentu melukai hati umat Islam. Namun, penting bagi umat untuk merespons secara bijak, terukur, dan berdasarkan syariat.
Rasulullah SAW sendiri menghadapi berbagai penistaan di masa hidupnya, namun beliau membalasnya dengan kesabaran, keadilan, dan doa, bukan dengan kemarahan yang membabi buta.
Kita belajar dari Rasulullah bahwa kehormatan beliau dijaga bukan hanya dengan kemarahan, tetapi dengan menghidupkan akhlaknya, memperkuat pendidikan Islam, serta menumbuhkan rasa cinta di hati generasi muda.
Karena itu, tanggapan terbaik terhadap penistaan bukan sekadar aksi protes, tetapi penguatan identitas umat, memperluas dakwah yang lembut, dan mengajarkan siapa Nabi Muhammad SAW sebenarnya kepada dunia.
Kini saatnya umat mengubah energi marah menjadi energi produktif seperti menulis, berdakwah, mendidik, dan menampilkan wajah Islam yang damai.
Dunia harus melihat bahwa kesucian Nabi Muhammad SAW hidup dalam tindakan dan akhlak umatnya.
Oleh karena itu, memahami mukjizat sebagai bagian dari tanda kebesaran Allah SWT sangatlah penting.
Semoga kita termasuk hamba yang senantiasa menjaga adab dalam memahami agama dan menghormati segala bentuk kebenaran yang dibawa oleh para nabi dan rasul
Wallahu a’lam
Oleh Amania Akmel Sahqila




