4 Peran Pesantren dalam Melestarikan Khazanah Keilmuan Islam di Indonesia

pesantren.png

Share

JURNALISTIK ASY SYADZILI 4 – Pondok pesantren adalah lembaga yang fokus dalam mengajarkan agama Islam, banyak tokoh-tokoh hebat di Nusantara yang terlahir dari pesantren.

 

Tidak bisa dipungkiri, pesantren menjadi lembaga tertua dalam melestarikan khazanah keilmuan Islam di Nusantara. Peranannya pun sangat besar dalam melestarikan ilmu agama islam.

 

 

Sejarah Munculnya Pesantren di Indonesia

 

Melansir dari Detikcom. Pesantren memiliki sejarah yang sangat panjang sekali, bahkan sebelum Indonesia merdeka pesantren sudah ada beberapa abad sebelumnya.

 

Banyak para pejuang dari kalangan Santri dan ulama sebelum Indonesia merdeka. Mereka adalah saksi bagaimana Indonesia dijajah dan dimanfaatkan SDA(sumber daya alam) beserta SDM(sumber daya manusia) yang tersedia di Indonesia.

 

Awal mula munculnya pesantren masih belum tahu kapan pastinya. Namun, ada beberapa sumber yang mengatakan, pesantren pertama kali muncul di Indonesia pada abad ke-14 dari sebuah literatur klasik Jawa.

 

Pesantren muncul pada masa Sunan Ampel atau yang memiliki nama asli Raden Ahmad tepatnya pada masa kerajaan Majapahit yang dipimpin oleh Prabu Kartawijaya pada abad ke-14.

 

Sementara itu, dari sumber lain yang diambil dari buku yang berjudul Model Pengembangan Kurikulum Pesantren di Era Digital karya dari Edi Sutrisno menyebutkan bahwa Pesantren muncul pada tahun sekitar 1062 Masehi di Pamekasan, Madura.

 

Sumber lain dari buku yang berjudul Studi Kritik Pendidikan Kontemporer: Analisis Merdeka Belajar karya dari Herman, yaitu pada masa Syekh Maulana Malik Ibrahim atau yang dikenal dengan Sunan Gresik sekitar tahun 1359 Masehi.

 

Pesantren tidak hanya fokus terhadap keilmuan saja, ketaatan dan etika juga menjadi prioritas yang selalu menjadi dasar pembelajaran di pesantren.

 

 Seperti ayat yang disebutkan dalam Al-Qur’an di surah An-Nisaa’ ayat 59:

 

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اَطِيْـعُوا اللّٰهَ وَاَ طِيْـعُوا الرَّسُوْلَ وَاُ ولِى الْاَ مْرِ مِنْكُمْ  ۚ فَاِ نْ تَنَا زَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَا لرَّسُوْلِ اِنْ كُنْـتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِا للّٰهِ وَا لْيَـوْمِ الْاٰ خِرِ  ۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا

 

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! taatilah Allah dan taatilah Rasulullah (Muhammad), dan ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. kemudian jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikan kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu, lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”

 

Selain ketaatan etika juga menjadi dasar di dalam pesantren seperti hadits yang diriwayatkan oleh Al Baihaqi:

 

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاقِ

 

 

Artinya: “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak mulia.”

 

Ketaatan dan etika memang penting, sehingga perlu peran pesantren dalam pembinaan tersebut. Berikut beberapa peran pesantren dalam melestarikan khazanah keilmuan di Indonesia:

 

 

  1. Pembinaan Ilmu Agama di Pesantren

 

Pembinaan ilmu agama di Pesantren merupakan inti dari pendidikan yang diberikan kepada santri, untuk bertujuan memperdalam pemahaman ajaran islam di kehidupan sehari-hari dan mampu mengimplimentasikannya.

 

Dengan diamalkannya suatu ilmu maka ilmu tersebut akan menjadi ilmu yang bermanfaat, seperti hadits yang diriwayatkan oleh imam Muslim, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam  bersabda:

 

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

 

 

Artinya: “Jika seorang manusia meninggal, terputuslah amalnya, kecuali dari tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak shaleh yang berdo’a untuknya.”

 

Pembinaan keilmuan di pesantren juga tidak hanya berfokus pada keilmuan agama saja, melainkan juga keilmuan formal, sehingga nantinya para santri tidak hanya faham tentang keilmuan agama,  melainkan juga faham tentang keilmuan formal dan mampu bersaing ketika terjun di kehidupan masyarakat.

 

 

  1. Pemeliharaan Tradisi dalam Menuntut Ilmu

 

Pesantren di Indonesia tidak akan pernah terlepas dari tradisi menuntut ilmu seperti bandongan, yaitu seorang kiyai atau ustadz memberikan penjelasan atau kajian dengan duduk dalam lingkaran atau barisan.

 

metode ini berfokus pada teks-teks agama seperti fiqih, tauhid, atau tafsir dengan cara yang lebih interaktif, yaitu ustadz menjelaskan makna dari teks tersebut sambil melibatkan santri dalam diskusi.

 

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

 

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:
“إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوا” قَالُوا وَمَا رِيَاضُ الْجَنَّةِ قَالَ “حِلَقُ الذِّكْرِ”


Artinya:“Jika kamu melewati taman surga, maka singgahlah.” Para sahabat bertanya, ‘Apa yang dimaksud taman surga itu, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Majelis-majelis dzikir.’
(HR. Tirmidzi, no. 3510)

Dalam tradisi islam, menghadiri majelis ilmu bukan sekedar kegiatan rutin, melainkan bentuk penghormatan kepada ilmu sebagai jalan mendekatkan diri kepada Allah SWT, Mengembangkan diri secara spiritual maupun intelektual.

 

Dengan demikian, menghadiri majelis ilmu adalah wujud nyata dari tradisi mulia mencari ilmu dalam islam, yang membawa rahmat, ketenangan, dan kemuliaan baik di dunia maupun di akhirat.

 

Ada beberapa kegiatan yang sudah menjadi tradisi dalam pondok pesantren, yaitu:

 

  1.     Tradisi Belajar Kitab Kuning

 

Tradisi ini sangat melekat di pondok pesantren, di mana para santri belajar kitab bahasa arab klasik, ini disebut dengan metode sorogan, yaitu santri membacakan kitab dan guru membimbing santri seperti memperbaiki bacaan serta menjelaskan isi dari kandungan yang telah santri bacakan.

 

  1.   Tradisi dalam Mengimplementasikan Bahasa Asing

 

Tradisi ini adalah pembelajaran santri yang mengimplementasikan bahasa dalam kegiatan sehari-hari. Ini bertujuan untuk membiasakan santri supaya lebih mahir dalam menggunakan bahasa asing.

 

Bahasa asing yang diimplementasikan pun beragam, namun bahasa arab di pesantren menjadi prioritas dalam pembelajaran bahasa asing, tidak hanya bahasa arab bahasa inggris di beberapa pesantren juga diterapkan.

 

  1.     Tradisi Menghafal di Pesantren

 

Tradisi menghafal dipesantren sangatlah kental. Setiap santri dibiasakan dalam menghafal, bahkan sudah menjadi kultur dalam pesantren.

 

Santri dibiasakan dalam menghafal kitab, baik itu kitab kuning seperti Alfiyah Ibn Malik, Safinatun Najah, Taqrib, maupun program tahfidz Al-Qur’an dan kitab-kitab yang lainnya.

 

 

  1. 3. Transformasi Pesantren di Era Modern

 

Pesantren saat ini sudah banyak bertransformasi dari salafi menjadi pesantren khalaf (modern), yaitu yang menggabungkan sistem pendidikan tradisional dengan sistem pendidikan formal.

 

berikut beberapa poin penting yang akan dibahas seperti apa saja transformasi dalam pesantren:

  1.     Adaptasi Kurikulum Pesantren dengan Perkembangan Zaman

Pada era modern pesantren sudah banyak mengintegrasikan teknologi dalam pembelajaran. Penggunaan teknologi seperti komputer, internet, multimedia, membantu memperluas akses dalam pembelajaran, terutama dalam pembelajaran formal.

  1.   Peran Pesantren dalam Pendidikan Formal dan Nonformal

Pesantren adalah lembaga pendidikan Islam yang berperan dalam memberikan pendidikan formal melalui integrasi kurikulum agama dan umum, serta pendidikan nonformal melalui pembentukan karakter, pengajaran ilmu agama, dan pengembangan keterampilan hidup.

Hal ini bertujuan untuk menghasilkan lulusan yang kompeten secara intelektual dan spiritual untuk menguasai berbagai bidang dalam keilmuan baik itu ilmu formal maupun nonformal.

Sehingga nantinya para lulusan pesantren tidak hanya siap dalam menghadapi masyarakat di bidang agama, melainkan juga mampu bersaing di bidang formal.

  1. Tantangan dan Peluang Pesantren dalam Era Globalisasi

Perubahan dan inovasi memang tidak akan pernah berhenti. Terkadang sangat sulit untuk selalu konservatif pada era globalisasi, yang notabenya setiap era yang berubah manusia pada dasarnya juga harus bisa beradaptasi dengan baik.

Integrasi memang sangat dibutuhkan dalam mencapai sesuatu di era globalisasi ini, dengan mengintegrasikan antara keilmuan agama dan keilmuan formal, nantinya akan membuat lulusan dari pesantren lebih meyakinkan untuk beradaptasi dengan gempuran modernisasi ini.

berikut dua poin di pesantren sebagai peluang dan tantangan bagi pesantren di era globalisasi:

  1.     Menjaga Nilai Tradisional di Tengah Arus Modernisasi

Pesantren sangat kental akan tradisinya dalam keilmuan agama islam. Namun, tidak menutup kemungkinan tradisi itu lambat laun akan hilang dikarenakan modernisasi  yang arusnya semakin kuat.

Menjaga tradisi pesantren di era modernisasi memerlukan keseimbangan antara mempertahankan nilai-nilai klasik dan beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Sangat penting bagi pesantren mengoptimal dalam mempertahankan tradisi di pesantren seperti menguatkan nilai-nilai keagamaan, mengintegrasikan tradisi dengan teknologi, dan menyediakan kurikulum terpadu, serta melibatkan santri dengan kehidupan modern.

Dengan ini pesantren tidak hanya menghasilkan lulusan yang faham akan agama, melainkan juga mampu menghasilkan lulusan yang berkualitas dan mampu dengan baik untuk beradaptasi dengan lingkungan dalam kehidupan masyarakat.

  1.   Peran Pesantren dalam Menangkal Radikalisme dan Menyebarkan Islam

Peran pesantren dalam menangkal radikalisme dan menyebarkan islam sangatlah besar. Dengan pembelajaran ilmu agama yang baik di pesantren dan pembinaan karakter yang sesuai dengan nilai-nilai islam.

Hal itu mampu menjadi solusi preventif dalam paham radikalisme dan dengan penyebaran agama yang mengajarkan nilai-nilai islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Tidak hanya itu, pesantren juga menjadi pusat aktivitas  keagamaan, sosial, dan budaya yang mampu menjaga harmoni dalam masyarakat untuk tetap menjaga tatanan di dalam masyarakat baik itu yang tertulis maupun tidak.

 

Kesimpulan: Pesantren Sebagai Pilar Pelestarian Keilmuan Islam di Indonesia

Pesantren berperan sebagai pilar yang sangat kokoh dalam pelestarian keilmuan islam di Indonesia. Banyak tradisi yang mempertahankan nilai-nilai islam yang klasik, antara lain:

  1. Mengajarkan kitab klasik

Kitab-kitab klasik yang dipelajari oleh pesantren adalah kitab-kitab di zaman dahulu yang sudah berumur ratusan tahun karya ulama terdahulu, seperti fiqih, tafsir, tasawuf, dan hadits, ini juga bagian dari tradisi yang akan terus dijaga di pesantren.

  1. Mencetak Ulama dan Cendekiawan Muslim

Pesantren mendidik santri supaya mampu menjadi sosok yang bermanfaat pada masyarakat, dan mampu dalam mengamalkan setiap ilmu yang telah dipelajari di pesantren dan juga menjadi muslim yang intelektual yang mampu berbaur di masyarakat nantinya.

  1. Mengintegrasikan  Keilmuan Islam dan Modern

Pesantren juga menyatukan pengetahuan islam dan modern, sehingga nantinya tidak hanya memahami akan ilmu agama, namun juga mampu memahami ilmu modern untuk bekal di masa depan.

 

Wallahu a’lam

Oleh Moh Syahrul Fadhil

Sign Up Newsletter

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.

Santri tidak hanya dibina untuk cerdas secara intelektual,
Learn More
tetapi juga matang secara emosional,
Learn More
dan yang paling utama, cerdas spiritualnya.
Learn more

Follow Ya

Terbaru